Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Monday, 24 February 2014

Misteri Memancing

Pengalamanku

Aku punya pengalaman unik yang mungkin sulit untuk dipercaya, namun ini kenyataan yang saya alami. Suatu ketika saya sedang berada di pinggir kali untuk mancing, dulu memang saya senang mancing pada malam hari, karena biasanya yang di dapat ikan besar seperti lele, sidat, kutuk dll., Sekitar pukul 11.00 malam di tengah kesunyian, kegelapan dan rasa kantuk yang sudah menghantui katena memang sejak sore belum satupun ikan yang kudapat. Sekonyong-konyong ada orang yang mendekati aku, dan ikut duduk di dekatku, biasa basa-basi sambil menanyakan kepada saya: “sudah dapat belum mas?!”. Saya mencoba mengamati sebentar di keremangan malam dan memastikan itu bukan teman saya, maka dalam hati kecil saya mengatakan ini hanya orang yang sama-sama mancing, dari ciri dan suaranya sepertinya orang ini sudah setengah baya, mungikn berussia sekitar 50-an. Maka saya pun menjawab: “Belum, Pak. lha bapak sendiri sudah dapat belum”, balik aku bertanya, dan dia pun menjawab juga belum dapat satupun. Akhirnya kami pun saling bekenalan yang ternyata dia bernama Bp. Arjo (nama disamarkan) yang kebetulan ia juga hobby mancing sejak masih kecil dan tinggal di dekat kali itu, yang sempat menunjukkan kepadaku rumahnya karena memang rumahnya kelihatan kelip-kelip lampu di dalamnya, kemudian mulailah kami terlibat dalam pembicaraan seputar pengalaman memancing. Menurut kisahnya ia sudah malang melintang di hampir seluruh kali yang berada di DIY ini ia datangi, bahkan sering juga sampai ke Purworejo, Kutoarjo sampai ke Gombong. banyak sekali pengalaman suka dan dukanya ketika menjelajahi kali-kali itu pada tengah malam. Karena saking asyiknya kami bercakap-cakap hingga aku melihat jam ternyata sudah hampir jam 2.00 pagi, dan akupun masih tetap nihil. pada saat itu juga ia mengatakan kepada saya “Sebentar lagi sampeyan pasti dapat, mas”. Sambil ia berusaha untuk berdiri berpamitan untuk melihat pancingnya sendiri yang katanya hanya 50 meter dari tempat kami duduk, dan tempat itu pas hanya beberapa meter dari rumahnya yang ditunjukkan kepadaku tadi. Sebelum ia pergi ia masih mengatakan: “Nanti kalau mau pulang mampir dulu ke rumahmu, ya mas!”. dan sayapun sekedar basa-basi juga setuju: “ya Pak, terima kasih”. Beberapa langkah ia berjalan saya hampir terperanjat, karena saya melihat di kegelapan malam ia sepertinya menabrak rumpun bambu, dan menghilang tapi tidak ada suara apapun dan bambu pun juga tidak ada yang bergerak sedikitpun. Spontan saya bangkit dari tempat duduk dan menghampiri orang itu, jangan-jangan ia jatuh, tapi setelah sampi di tempat ia menghilang tadi memang tidak ada apa-apa, dan betul yang saya lihat adalah rumpun bambu ori. Sebentar saya dibuat heran dan bingung, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Akhirnya saya mencoba untuk berpikir rasional, karena dalam gelap sehingga mata saya pun bisa terkelabui, jadi sebenarnya bapak tadi memang tidak menabrak rumpun bambu, tapi hanya penglihatan dan perasaan saya saja yang salah. Saya pun juga tidak berusaha untuk melihat di tempat ia mancing yang sebenarnya tidak jauh, aku milih langsung kembali ke tempat pancing saya tertancap. Sebenarnya aku sudah jenuh karena tidak satupun ikan yang kudapat, tapi karena ke tiga temanku jauh di tempat yang saya tidak tahu. Kami biasa kalau mancing di kali selalu berpencar, yang penting ingat di mana kami parkir, sehingga kalau mau pulang kami tidak usah saling mencari, semua akan kembali di tempat parkir sepeda motor. Karena saya berada di dekat motor yang kami parkir, maka konsekuensinya saya harus mau menunggu sampai mereka kembali sekalipun sebenarnya sudah jenuh dan ingin pulang. Namun beberapa saat kemudia terdengar klinting yang aku pasang berbunyi keras, dengan perasaan kaget saya segera ambil Walesan (tongkat pancing) dan betul satu ikan kena, sebentar kemudian aku bisa merasakan kalau yang aku tarik cukup berat, saya berpkiran bahwa ini pasti ikan besar. Dan benar dugaan saya ternyata ikan lele sebesar tangan orang dewasa, yang bagi saya ini luar biasa karena memang jarang sekali kami mancing dapat lele lokal yang sebesar itu, yaaah paling-paling hanya sebesar baterei, tapi yang ini dua kali lipatnya.
Setelah saya masukkan ke dalam karung gandum (kami biasa kalau mancing malam tidak membawa kepis tapi kantung/karung gandum, berjaga-jaga kalau nanti dapat ikan sidat tidak repot), kail saya masukkan lagi ke kali dengan perasaan senang, bangga dan spontan rasa kantuk dan jenuhku hilang seketika. Namun apa hendak di kata tidak lama kemudian dan belum hilang rasa senangku klintingku berbunyi lagi, dan luar biasa aku dapatkan lele lagi dengan besar yang hampir sama dengan yang pertama tadi. Dan keberhasilan ini berlangsung hingga hampir jam 5.00 pagi, yang pada saat itu kami berempat sudah berkumpul, karena biasanya kalau mancing kami selalu pulang sekitar jam lima pagi, setelah aku tanyakan kepada mereka ternyata mereka tak satupun dapat ikan, malah mereka yang terheran-heran melihat saya sukses besar, sebab biasanya aku yagn paling kalah dalam hal perolehan, karena saya memang tidak pernah kemana-mana, jadi kalau mancing begitu sudah menancapkan pancing ya di situ aku berada sampai pulang, entah dapat atau tidak saya tidak pernah pindah. Tidak seperti teman-teman yang lain yagn selalu berpindah-pindah tempat kalau dirasa di sini ikan tidak mau makan. Karena saking herannya mereka semua akhirnya juga ikut melemparkan kail di dekat saya, namun nasib tetap nasih, keberuntungan tetap keberuntungan, sekalipun sudah dengan dengan saya memancing tetap saya punya mereka tidak di makan dan hanya kailku yang selalu disikat ikan. Sampai akhirnya terkumpul 6 lele, 4 sidat, 1 cili, 1 kutuk dan besar-besar lagi, hanya cili yang paling kecil sebesar jempol kaki saja. Luar biasa, dahsyat dan Surprise, ini merupakan pengalaman yang tidak pernah aku lupakan, sepanjang sejarah aku senang mancing baru kali ini mendapatkan hasil sebanyak itu 12 ikan dalam satu malam dan besar-besar. Nah saya pun juga tidak lupa menceritakan pengalamanku ketika ketemu dengan orang yang tidak aku kenal dan bernama Pak Arjo itu pada teman-teman, sampai pada akhirnnya kami memutuskan untuk betul-betul mampir ke rumahnya dengan maksud untuk memberikan sebagian ikan yang aku dapat sekalian utnuk mempererat persaudaraan dan dengan harapan di kemudian hari kalau mancing di situ lagi sudah punya tempat mangkal untuk sekedar titik sepeda motor. Namun kekagetan-kekagetan yang aku alami semalam ternyata masih belum berakhir, ketika saya sampai di rumah Pak Arjo yang kebetulan istrinya sudah bangun sedang memasak air di dapur, saya langsung mencoba untuk permisi “kulo nuwun”, terdengan jawaban dari dalam ” mangga”. Setelah ibu itu ke luar, segera saya sampaikan tanyakan apakah betul ini rumah Pak Arjo dan di jawab “benar”, saya mengatakan ingin bertemu dengan Pak Arjo dan ingin memberikan sebagian ikan yang kami dapat. Saat itu juga kami berempat terperanjat seperti disambar petir di pagi hari, kalau itu itu mengatakan bahwa Pak Arjo ternyata sudah meninggal sebulan yang lalu dan seminggu lagi genap 40 harinya, terasa jantung saya berhenti berdenyut dan badan terasa kaku seperti tak mampu saya menggerakkannya. Namun setelah selang beberapa saat kami sudah bisa menata mental, saya pun bercerita tentang pertemuan saya dengan Pak Arjo dan ibu itu pun juga kaget setengah tidak percaya dengan yang saya ceritakan, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi segalanya kita kembalikan kepada yang Kuasa, terlepas semua peristiwa itu benar atau tidak yang pasti ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa dan unik bagi saya pribadi khususnya. Tapi kami tetap memberikan ikan yang kami dapat yang memang sudah kami siapkan dalam dua karung, satu kami bawa pulang yang satu kami berikan kepada ibu Arjo itu, dengan harapan peristiwa ini bisa membuat tali bersaudaraan di antara kami. Ibu Arjo pun akhirnya bisa menerima maksud kedatangan kami berempat. Dan ternyata semasa hidupnya Pak Arjo memang hobby mancing sejak kecil hingga di akhir hidupnya bahkan pancingnyapun masih utuh tersimpan walaupun anak-anaknya yang empat orang itu tidak ada yang suka mancing.
Itulah pengalamanku ketika aku masih senang mancing di malam hari.
dan kalau saya tidak salah ingat kira-kira tahun 1986.

Tuesday, 17 September 2013

The Fishing Trip Encounter

What could have been a fun weekend of fishing and relaxation for four teenage boys turned into a confusing and frightening episode of unreality, bizarre sightings and missing time
  In the spring of 2001, a 16-year-old boy, whom we'll call José, and three friends set off on a fishing expedition to a lake near their homes in Mexico. What they encountered on that strange day - and what happened to José - has puzzled and haunted them ever since. This is José's story:  The wind was blowing quite strongly that spring morning, stirring up dust and creating a cloudy atmosphere. Three friends and I were going fishing. We set off on foot from my house to a lake that was about three miles or so away. The sun had just risen and the wind howled and combed the sea of dry grass that we walked through. We all carried the essentials: the fishing gear, of course, knives, food, snacks and a tent. We had planned to spend the night at the fishing spot, but with the north air whistling loudly and the dry dust beating our tired faces, we decided not to camp, but just fish for the day. On the way to the lake, we chatted about everyday things as we walked. After a couple of hours or so, we finally reached the lake. Unfortunately, the wind was still blowing strongly, and the dark lake rolled with violent waves that lashed the rocky shore ferociously. We walked around the bleak body of water looking for a good spot to fish, a task that lasted more than an hour.  When we finally decided on the perfect spot, a gust of wind struck us so violently that one of my friends and I were knocked off our feet. My head struck a boulder behind me and I clearly felt the back of my head getting wet. I reached back and touched it, and was surprised to find no blood. I asked the guys to look and see if I was bleeding from or a cut or something, but they all answered that I wasn't. One of the guys even touched the spot on my head with a piece of paper, but no trace of blood came off. Strangely, the back of my head still felt wet. I passed it off as as just the sensation of the blow to my head combined with the chilly wind.  We began to throw the lures and we fished for a few hours. We caught some fish and ate our lunch. The wind made it impossible to start a fire, and as the sun was hiding behind the gray, desolate clouds and the mountains, I suggested to my friends that it was a good idea to head home. They all agreed, so we packed up our stuff and started on the three-mile walk back to my house. That return trip turned out to be a bizarre odyssey.
The return trip

We had spent too much time packing up the gear and getting ready to leave. The sun had set and night was a few minutes away now. There was a road we could follow about 500 meters away from us, but the straight way was shorter, much shorter. 

The back of my head still felt kind of wet, and told my buddies I was not feeling at all well. I begged them that we should take the road, even though it was longer. In case something happened to me, we could flag down a passing car. But because taking the road would have added an extra hour to our trip, they neglected my demand. We continued and came to a small hill. We climbed it and saw, at the bottom of the hill on the other side, a man. He was lying on the ground, motionless. 


Source

Monday, 2 September 2013

Mancing Ikan Baung Ditemani Hantu Wewe Gombel (Kisah Nyata)

 

13712703701408365316
Ikan Baung ( Sumber ilustrasi http://4.bp.blogspot.com )

Oleh J. Haryadi
Sore itu Balkan bersama mertua dan kedua rekannya bermaksud memancing ikan Baung di sebuah sungai yang cukup besar di pinggir sebuah desa di Kotabumi, Lampung Utara. Mereka berempat berangkat dari rumah mengendarai dua buah motor berboncengan. Lokasi memancing ikan cukup jauh dari desa dan agak masuk kepedalaman, sehingga motor hanya bisa parkir sampai ke sebuah gubuk ditepi ladang milik salah seorang petani. Motor lalu dititipkan kepada seorang lelaku tua paruh baya yang berpakaian lusuh.
Mereka berempat sebenarnya belum pernah memancing ke daerah tersebut, namun mereka tahu lokasinya atas petunjuk teman mereka yang pernah memancing disana. Mereka bertanya kepada lelaki tua itu lokasi yang tepat untuk memancing ikan Baung, lalu pria ramah tersebut memberi tahu ancar-ancar lokasi sungai yang biasa dipakai orang memancing. Menurutnya, mereka harus berjalan ke arah Barat dengan menyusuri jalan setapak yang berjarak sekitar 3 km. Patokannya adalah sebuah pohon beringin tua, tak jauh dari sana akan ditemui sebuah sungai yang cukup besar.
Mereka berempat berangkat menuju sungai dengan menyusuri jalan setapak yang sempit dan dipenuhi dengan rumput ilalang. Kiri-kanan jalan masih banyak ditemui hutan yang cukup lebat, sesekali melewati beberapa ladang penduduk. Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya mereka menemukan pohon beringin tua yang cukup besar. Tidak jauh dari pohon beringin tersebut terdapat sungai yang cukup luas dan dalam. Air sungai berwarna kecoklatan mengalir dengan tenang. Beberapa pohon bambu yang cukup lebat menghiasai pinggiran sungai tersebut. Mereka lalu menyisir tepi sungai sambil mencari lokasi yang tepat untuk memancing. Mereka tiba ketika hari sudah menjelang Maghrib.
Balkan, mertua dan kedua rekannya mengambil posisi memancing dengan posisi berlainan, jarak diantara mereka kira-kira 30 m.  Diantara mereka tidak saling terlihat karena dihalangi oleh semak belukar dan pohon bambu yang rindang.
Sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Lampung, kalau memancing ikan Baung menggunakan umpan kucur, yang terbuat ikan dan daging busuk yang dicampur kapuk. Balkan tidak menyia-nyiakan waktunya untuk segera memacang umpan kucur di mata pancingnya. Perburuan ikan Baung pun segera dimulai.
Sudah satu jam berlalu, langitpun sudah berubah menjadi gelap. Namun cahaya rembulan di malam itu cukup membantu membuat suasana menjadi remang-remang. Anehnya, sampai saat ini tak satupun ikan Baung diperoleh Balkan. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan bergerak menuju tempat memancing temannya yang terdekat. Didapati temannya sudah mendapat dua ekor ikan Baung yang cukup besar. Entah karena solidaritas atau ingin memiliki privasi sendiri, rekannya itu justru  berpindah memancing  ketempat lain. Tentu Balkan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, lalu posisi rekannya digantikan oleh Balkan. Dalam hati dia berpikir, pasti akan mendapat ikan Baung seperti temannya tadi.
Kembali Balkan menyiapkan umpan kucur dan melemparkan mata pancingnya ke arah sungai, dibawah pohon bambu hutan yang sangat lebat. Tiba-tiba tali senarnya bergerak lincah kesana kemari. Pasti ikan Baung besar sudah memakan umpannya, pikir Balkan. Pergumulan pun segera dimulai. Balkan segera memainkan keahliannya menarik dan mengulur senarnya sedemikian rupa agar ikan Baung tangkapannya tidak lepas begitu saja. Beberapa detik kemudian pancingnya tersentak keras dan Balkan merasa mata pancingnya terlepas, karena tarikannya menjadi enteng sekali.
Segera digulungnya senar pancingnya untuk memastikan apa yang terjadi. Ketika ujung senar muncul ke permukaan air, ternyata mata pancingnya tidak putus, bahkan umpan dan timah pemberat pancingpun masih terpasang rapi. Alhamdulillah, hati Balkan tidak terlalu kecewa karena tidak perlu mengganti mata pancingnya. Namun dia mulai merasa aneh dengan kejadian ini.
Mata pancing kembali dilemparkan ke dalam sungai. Tak lama kemudian, kembali senarnya mengencang. Kali ini Balkan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dalam memainkan pancingnya. Dengan berbagai teknik dan pengalaman yang dimilikinya dia berusaha mengalahkan Ikan Baung yang sedang memakan umpannya. Pergumulan kembali terjadi dengan sengit, tarik menarik antara Ikan dan Balkan berlangsung beberapa menit lamanya. Sayangnya, kejadian pertama tadi terulang kembali. Tiba-tiba dia merasa ikan itu menyentak pancingnya dengan keras dan beberapa detik kemudian tarikannya terasa ringan sekali, pertanda mata pancingnya terlepas dibawa ikan.
Kembali kekecewaan Balkan terobati karena mata pancingnya ternyata masih utuh, seperti tidak terjadi apa-apa. Tentu saja Balkan semakin heran, seharusnya mata pancingnya putus karena tarikan ikan Baung tadi keras sekali. Tetapi dia masih penasaran dan kembali melempar mata pancingnya ke tengah sungai.
Baru juga masuk beberapa detik ke dalam sungai, umpan kucur di mata pancingnya terasa ada yang memakannya. Kejadian seperti sebelumnya kembali terjadi. Pergumulan antara Bakan dan ikan lebih seru dari sebelumnya. Tarik menarik berlangsung lama dan cukup menguras tenaga. Akhirnya kembali lagi Balkan dikalahkan oleh ikan misterius tersebut. Dia merasa mata pancingnya kali ini pasti benar-benar putus, karena tarikan senarnya sudah langsung mengendur. Tetapi ketika sampai ke permukaan air, mata pancing dan timah pemberatnya masih terpasang rapi, kecuali umpan kucur yang sudah tidak ada.
Mungkin karena kesal sudah mengalami kejadian ini selama tiga kali, kesabaran tukang ojek yang merangkap sebagai guru ngaji ini pun mulai hilang. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.
Dasar ikan sialan ! Kalau mau makan umpan ya makan saja, jangan main-main. Kalau kamu setan, muncul saja sekalian …,” teriak Balkan dengan kesal, setengah menantang.
Sambil duduk bersila, Balkan memegang mata pancingnya dan bermaksud memasang kucur yang ada disisi kanannya, sambil menyalakan batere kecil sebagai penerangannya. Ketika kepalanya menoleh ke kenan, alangkah terkejutnya karena disampingnya ada seorang nenek-nenak sedang jongkok berpakaian kebaya zaman dulu dengan kedua bola matanya yang panjang melotot dan wajah berantakan dipenuhi benjolan-benjolan seperti orang terkena penyakit kusta. Sontak semua bulu kuduk dan semua rambut yang dimiliki Balkan berdiri tegak seperti landak.
Beberapa detik lamanya badan Balkan tidak bisa bergerak dan saling pandang dengan hantu wewe gombel yang ada dihadapannya. Masih beruntung, dalam kondisi takut yang luar biasa, dia teringat nasihat almarhum ayahnya. Beliau pernah bercerita kalau ketemu dengan hantu, hujamkan pisau atau benda tajam lainnya ke bumi, maka hantu itu pasti akan hilang. Dengan sisa kekuatan yang masih tersisa, secara repleks Balkan mengambil pisau belati yang tersimpan dari balik bajunya dan menghujamkannya ke bumi sambil mengucapkan sumpah serapah. Sontak saja wewe gombel itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
Kemudian Balkan segera berdiri dan berteriak minta tolong sambil memanggil mertuanya. “Toolooong …a..a..baaah !
Beberapa kali Balkan berteriak, tetapi anehnya, suara dari mulutnya seakan-akan terganjal di tenggorokan. Dia merasa sudah berteriak sekeras-kerasnya, namun hasilnya justru nihil, tak terdengar suara sedikitkpun dari mulutnya.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Balkan berusaha berjalan sambil mulutnya terus berteriak. Tetapi langkahnya terasa berat sekali. Satu langkah itu terasa seperti membawa beban yang sangat berat, tetapi dia terus berjuang sambil berteriak dan membaca ayat suci Al-Qur’an dalam hati. Baru pada langkah ke tujuh kakinya terasa ringan dan tiba-tiba teriakannya menjadi normal dan kencang sekali.
Sayup-sayup terdengar jawaban diujung sungai. Balkan segera bergerak cepat mencari rekan-rekannya, namun mereka tidak ditemukan. Balkan terus menyusuri tepi sungai dengan cepat. Akhirnya setelah bergerak beberapa menit mereka ditemukan. Ternyata rekan-rekannya berada cukup jauh darinya, sekitar 1 km dari lokasi kejadian.
Mereka berempat sepakat untuk menghentikan kegiatan memancingnya dan kembali ke gubuk petani. Sesampainya disana Balkan menceritakan kejadian yang dialaminya ke pak tua. Petani itu kemudian menjelaskan kalau tempat tersebut memang angker dan Balkan bukan orang pertama yang mengalami hal serupa. Beberapa pemancing pun pernah mengalaminya. Ternyata menurut pak tua, tidak jauh dari lokasi kejadian terdapat makam tua yang tidak terurus. Mungkin penghuni alam gaib yang ada disana merasa terganggu dan marah dengan kehadiran mereka sehingga menakut-nakuti mereka.
Sejak saat itu Balkan tidak berani lagi memancing ikan Baung ke daerah tersebut dan kejadian itu menjadi pelajaran berharga baginya sampai sekarang.
***
Kamus :
- Ikan Baung : Sejenis ikan lele yang biasa hidup di air tawar.    Baung adalah nama segolongan ikan yang termasuk ke dalam marga Hemibagrus, suku Bagridae. Ikan yang menyebar luas di India, Cina selatan dan Asia Tenggara ini juga dikenal dengan banyak nama daerah, seperti ikan duri, baong, baon (Malaysia.), bawon (Betawi), senggal atau singgah (Sunda), tagih atau tageh (Jawa), niken, siken, tiken, tiken bato (Kalimantan tengah), dan lain-lain.
Baung masih sekerabat dengan lele (bangsa Siluriformes). Nama marganya, Hemibagrus, berasal dari kata bahasa Latin hemi yang berarti “setengah” atau “separuh”, dan bagrus, yang dipungut dari pelafalan Muzarab bagre atas perkataan Yunani pagros, yakni nama sejenis ikan laut (Inggris: seabream).
- Kucur adalah sejenis umpan untuk memancing, khususnya terhadap ikan baung. Umpan kucur ini terbuat dari bahan dasar ikan. Sebelum menjadi umpan yg dinamakan kucur, ikan ini akan melalui proses pembusukan dengan bahan campuran kapas. Setelah masa atau proses pembusukan selesai maka ikan yg telah membusuk tersebut sudah siap utk djadikan umpan memancing. Perlu anda ketahui bahwa umpan ini mengeluarkan aroma yang tidak sedap disaat pemakaiannya.    

Sumber

Friday, 26 April 2013

Pengalaman Seram Kaki Pancing


Terdapat satu kisah di mana dua orang sahabat baik telah pergi memancing ke sebuah tempat. Namun lain yang dihajat, lain pula yang datang. Mereka berdua telah diganggu oleh makhluk halus.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
By Shah

Melayukini.net – Pengalaman Seram Kaki Pancing | Selain manusia, Allah turut menciptakan makhluk lain yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar tetapi kehadirannya dapat dirasai walaupun ia tidak pernah menyenangkan. Di layar perak atau kaca televisyen, kehadiran makhluk halus selalunya disertakan dengan muzik menyeramkan, membuatkan bulu roma penonton turut sama berdiri.
 

 
Bagaimanapun, di alam nyata, kehadirannya langsung tidak memberi petanda kerana tiba-tiba saja ekor mata dapat menangkap kelibat sesuatu tetapi akhirnya hilang begitu saja. Ada ketikanya, ia menjelma betul-betul di depan mata tetapi bagi yang penuh ilmu di dada, ia tidak sedikit pun mencuit rasa. Sebaliknya, bagi yang longgar iman, kemunculan makhluk yang dijanjikan kekal dalam neraka itu sedikit sebanyak mencabar kewarasan.
Sebaiknya kehadiran makhluk berkenaan sama ada di depan mata atau sekadar berasakan kelibatnya tidak dihiraukan kerana takut bererti manusia yang disertakan akal bersama kejadiannya memberikan kemenangan kepada iblis yang diizinkan Allah mengusik dan menyesatkan anak cucu Adam sehingga hari kiamat.
Mungkin kisah yang diceritakan pemuda berusia awal 20-an yang cuma dikenali sebagai Faiz boleh dijadikan panduan betapa makhluk itu juga bosan jika usikan dan gangguannya tidak diendahkan.
“Kisah ini diceritakan oleh rakan sekerja yang jauh lebih senior. Dulu, di tempat kerja saya ada dua sahabat baik yang gila memancing. Persahabatan mereka sejak di bangku sekolah rendah terbawa-bawa sehingga ke alam pekerjaan.
“Memandangkan persekitaran kerja yang dekat dengan laut, kedua-dua mereka tidak melepaskan peluang memancing sebaik tamat tugas. Keakraban mereka dapat dilihat jika seorang bekerja syif pagi dan seorang lagi syif petang hingga malam, kedua-duanya akan balik ke rumah esok pagi selepas memancing semalaman,” kata Faiz.
Pada malam kejadian, kedua-dua sahabat baik itu duduk selesa di atas tembok bersebelahan antara satu sama lain sambil menunggu joran masing-masing diragut ikan. Malam semakin hening tetapi kedua-dua lelaki berkenaan terus sabar menanti.
Tiba-tiba mereka ternampak sebiji labu sayong yang hanyut entah dari mana. Salah seorang lelaki berkenaan terus memungut labu itu dan diletakkan di tepi kemudian kembali menumpukan perhatian kepada joran.
“Dalam keadaan sunyi sepi dan hening itu, tiba-tiba mereka ternampak ada sesuatu menjelma di tengah laut dan di atas permukaan laut, makhluk itu berjalan menghampiri mereka. Kedua-dua sahabat itu cuma melihat makhluk itu semakin menghampiri dan duduk di tengah-tengah antara mereka berdua.
“Lucunya, mereka tidak pula lari lintang pukang, sebaliknya cuma mengalih kedudukan seolah-olah memberi ruang kepada makhluk itu. Agaknya bosan gangguannya tidak dihiraukan, makhluk itu lesap begitu saja meninggalkan kedua-dua sahabat tadi yang asyik memancing itu. Rupa makhluk itu tidak pula diceritakan oleh rakan sekerja,” katanya.
Mungkin juga kerana nasib tidak menyebelahi, joran mereka tidak dimakan ikan menyebabkan kedua-dua sahabat itu berkemas untuk balik. Ketika itulah baru disedari labu yang sebelumnya berada berhampiran mereka sudah hilang.
Kedua-dua sahabat itu terperanjat besar apabila membuka but kereta kerana mereka mendapati labu berkenaan berada di dalamnya. Siapa yang meletakkan labu sayong itu di dalam bonet menjadi misteri kepada kedua-duanya.
Faiz berkata, seorang rakannya yang digelar abang Din, juga kaki pancing kerap diganggu makhluk halus tetapi bak kata pepatah alah bisa tegal biasa.
“Dia menceritakan pernah satu hari dia balik ke rumah pada waktu dinihari selepas memancing. Selepas membersihkan badan, abang Din mengejutkan isterinya untuk memberitahu ikan sudah dibawa masuk ke dalam sebelum tidur.
“Tidak lama kemudian, isterinya mengejutkan abang Din untuk bertanya apa yang dibawa balik. Apabila abang Din menjawab ikan, isterinya dengan selamba berkata: ‘Ikan apa dengan bentuk badan besar macam beruk, hitam legam dan berbulu lebat?’ Rupa-rupanya abang Din turut membawa balik makhluk lain,” katanya.
Sudah tiba masa kita kembali membetulkan anggapan salah yang kerap disajikan di layar perak mengenai makhluk halus mencari korban. Memang betul kata seorang ustaz – makhluk itu cuma berjanji untuk mengusik dan menyesatkan, bukan membunuh.
Melayukini.net - Makhluk halus ada di mana-mana sahaja dan ia memang suka tinggal di tempat yang tidak berpenghuni. Oleh itu sudah menjadi kebiasaannya jika ada kaki memancing sering diganggu jika mereka berkunjung ke sesebuah lubuk. Walaubagaimanapun, perlu sentiasa bersedia dengan ayat pendinding semoga mereka tidak mengganggu kita.


Sumber: Tak Mungkin Benar | Koleksi Berita Informasi Melayukini.net

Sunday, 14 April 2013

Asal Mula Danau Toba

    
Cerita Rakyat dari Tapanuli Utara




Pada zaman dahulu ada seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan ladang untuk keperluan hidupnya.

Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ikan ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama dia memancing, tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang begitu belum pernah dia alami. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada juga kan yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing.

Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ke tengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah beberapa lama ia biarkan pancingnya ditarik ikan itu kesana kemari, barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu disentakkannya tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti.


Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang. Ketikan dia meninggalkan sungai untuk pulang ke rumahnya hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapurnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.


Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan tempat terhampar bebeapa keping uang emas. Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk ke kamar.

Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena di dalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian, perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri di hadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat perempuan secantik itu meskipun dahulu dia sudah jaun mengembara ke berbagai negeri.


Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya ke dapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya.

Setelah beberapa minggu perempuan cantik itu tinggal serumah bersamanya, pada suatu hari lelaki itu melamar perempuan tersebut untuk jadi istrinya. Perempuan tersebut menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya yang menjelma jadi ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama samosir. Anak itu sangat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.

Seelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.


Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang utnuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nsi itu. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya di ladang, sisa nasi yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah sangat lapar karena nasinya sudah sangat terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasi itu. Kesabaran si ayah menjadi hilang dan dia pukuli anaknya sambil mengatakan “Anak yang tak bisa diajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”

Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia adukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.

Danau Toba dan Rumah tradisional suku Batak di Sumatra Utara

Ketika tampak oleh si ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dirumah mereka itu. Ketika di tiba ditepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itupun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tenggelamlah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tidak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelaman, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang kemudian hari dinamakan orang danau Toba. Sedang pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.
 
 
 
 
 
Source:   Folktalesnusantara

Friday, 5 April 2013

Makhluk menyerupai sepupu temani Hazwan

Oleh Nuri Angkasa 


















HAZWAN memang tidak minat langsung untuk turut sama dengan kawan-kawan turun memancing sama ada di sungai, tasik lombong, kolam mahu pun di laut. Ceritalah apa pun mengenai keseronokan bertarung dengan ikan yang tersangkut di mata pancing atau bertarung dengan ikan bersaiz XL namun semua itu tidak langsung menarik minat Hazwan.
HAZWAN memang tidak minat langsung untuk turut sama dengan kawan-kawan turun memancing sama ada di sungai, tasik lombong, kolam mahu pun di laut. Ceritalah apa pun mengenai keseronokan bertarung dengan ikan yang tersangkut di mata pancing atau bertarung dengan ikan bersaiz XL namun semua itu tidak langsung menarik minat Hazwan.

Bagaimanapun beliau tetap mempunyai seorang kawan baik yang sentiasa bercerita mengenai hobi memancing. Setiap hujung minggu atau hari kelepasan am, Hazwan sering keseorangan kerana rakannya sentiasa keluar memancing.

Masa terus berlalu. Tetapi sejak kebelakangan dia sendiri rasa tercabar apabila sepupunya, Shakila pulang dari Amerika menunjuk minat memancing yang serius walau dalam keadaan berdepan dengan kesibukan dengan kerja dalam sebuah syarikat swasta.

Shakila ketika belajar di luar negara sering turun memancing dan bermalam di tengah laut bersama rakan pelajarnya. Menyedari adanya perasaan malu setelah beberapa kali dipelawa oleh Shakila, lalu beliau menyahut pelawaan Shakila kerana ingin membuktikan bahawa dia bukan seorang lelaki yang penakut untuk turun memancing.

Seminggu selepas itu, Hazwan sudah berada dalam kumpulan rakan pancingnya yang turun memancing di tasik lama di pedalaman hutan simpan Manong, Perak. Hazwan diajar oleh rakan yang lain mengenai teknik memancing yang betul dan kemudian meneruskan aktiviti dengan sendiri.

Ketika di hutan Simpan Manong, Hazwan terus memancing walaupun ramai rakannya sudah mula berehat dalam khemah kerana sudah lewat malam. Satu jam selepas itu keadaan sekeliling menjadi sepi tetapi Hazwan tidak merasa takut walaupun dia seorang saja yang masih memancing dengan ikan tidak seberapa yang dia dapat. Dalam keadaan sunyi dan sesekali angin lembut bertiup, Hazwan terkejut apabila muncul Shakila dengan tiba-tiba lalu menceritakan bahawa dia dengan dua rakan pancing yang lain sedang berada di hujung tasik sebelah hulu tetapi tidak berapa jauh dari khemah rakan Hazwan.

Shakila mempelawa Hazwan untuk berpindah ke lokasi berkenaan yang didakwa ada banyak ikan. Hazwan tanpa banyak bicara terus pergi mengikut sepupunya ke lokasi yang sudah dibanjiri oleh ramai pemancing dalam keadaan terang benderang dan sesetengah daripada mereka sedang bersuka ria sambil minum dan makan.

“Itu kawan-kawan Shaki. Mereka ke sini bukan saja nak memancing tapi mereka nak berseronok,” Shakila menerangkan pada Hazwan apabila dilihat Hazwan mula sangsi.

Hazwan diajar oleh Shakila cara memancing. Gadis itu memberikan sebungkus mata kail untuk diikat pada tali sebagai perambut. Selepas itu mereka mencuba lalu berhasil mendaratkan ikan yang bukan sedikit. Hazwan bagaikan lupa diri dan Shakila terus melayan hingga masa sudah begitu lama berlalu lalu mereka keletihan dan tertidur.

Esoknya, awal pagi sebelum terbit matahari perkhemahan rakan Hazwan menjadi gempar. Mereka mendapati Hazwan hilang dari khemah malah hilang dalam kawasan memancing di tepi tasik yang berdekatan. Mereka terus mencari dan akhirnya terjumpa Hazwan yang masih terlena di tepi tasik yang agak jauh sedikit dari perkhemahan mereka.
Hazwan dikejutkan tetapi dalam keadaan antara jaga dan tidur dia bertanya mengenai Shakila yang didakwa ada bersama memancing dengannya malam itu. Lantas dia turut menunjuk sebungkus mata pancing dan ikan yang dipancing bersama pada malam itu.

Memang dakwaannya terbukti dengan barang-barang yang masih ada bersamanya. Peristiwa itu tidak berkubur di situ saja kerana sekembalinya daripada memancing Hazwan terus ke rumah Shakila. Dia menceritakan apa yang berlaku.

Shakila terkejut kerana beliau ada di rumah pada malam berkenaan. Persoalannya - siapa yang yang bersama dengan Hazwan memancing di tasik pada malam itu? Bagaimana dengan mata pancing yang masih ada bersama Hazwan? Misteri ini tidak berjawab hingga hari ini tetapi nyata ada makhluk yang menyerupai Shakila menjadi teman memancing Hazwan sebagai membuktikan cabaran bahawa beliau tidak penakut untuk turun memancing.



Source:  Joran

Monday, 18 March 2013

Cabaran yang akhirnya makan diri

 

Oleh Nuri Angkasa



"PEDULIKAN dengan hantu, syaitan, pontianak. Sekarang ni dah zaman moden, kita jangan takut, tasik tu memang banyak ikan, kita mesti pergi minggu depan ni," tegas Kamarul anak muda yang menetap di Kuala Lumpur, cerita Pak Daud kepada penulis misteri untuk berkongsi pengalaman dengan kaki pancing seluruh negara dalam halaman Misteri Joran.
“PEDULIKAN dengan hantu, syaitan, pontianak. Sekarang ni dah zaman moden, kita jangan takut, tasik tu memang banyak ikan, kita mesti pergi minggu depan ni,” tegas Kamarul anak muda yang menetap di Kuala Lumpur, cerita Pak Daud kepada penulis misteri untuk berkongsi pengalaman dengan kaki pancing seluruh negara dalam halaman Misteri Joran.

Sama ada kita mahu percaya atau tidak tentang misteri, ianya tetap ada malah berlaku dengan jelas, Pak Daud meneruskan cerita tentang Kamarul bersama lima rakan pancing yang bertekad untuk meneruskan rancangan memancing di Tasik Merbau Jati, yang dikatakan berpuaka, tapi banyak ikan kerana jarang di kunjungi pemancing.

Kamarul mulutnya memang celupar, dia bercakap tidak mengira tempat, walau pun dia sudah dua kali disergah lembaga hitam semasa memancing di kolam berbayar yang jauh dari bandar, tapi dia masih belum serik.

Hari itu hujung minggu, dia dengan rakan pancing dari kampung asalnya Lembah Beringin (bukan nama asal) bergerak ke lokasi dengan menaiki tiga motosikal. Perjalanan mengambil masa hampir empat jam itu membuatkan mereka tidak sabar untuk beraksi dengan ikan toman, patin dan baung bersaiz besar hingga mencecah puluhan kilogram setiap ekor ingin didaratkan. Cerita beberapa beberapa orang pemancing yang sudah pergi ke tasik tersebut menyebabkan Kamarul tambah teruja, dan mengulangi ke lokasi itu lagi atas sebab-sebab yang penuh dengan rahsia.

Kumpulan Kamarul tiba di Tasik tepat jam tiga petang. Suasana sangat tenang sekitarnya dan tasik terbentang luas dengan lompatan ikan sambil bermain hingga ke bahagian tebing tasik dengan bebas.

Kamarul dengan rakan pancingnya terus mencari tempat yang sesuai dan dengan pantas melabuhkan umpan anak ikan seluang hidup yang disimpan dalam bekas bantuan oksigen. Mereka tidak kering tangan mendaratkan ikan baung dan patin bersaiz sederhana dan besar hingga mencecah 12 kilogram. Paling banyak mendaratkan ikan patin ialah Luqman (anak tempatan kampung Mukut Pulau Tioman) yang bekerja satu pejabat dengan Kamarul di Kuala Lumpur.

Bagaimanapun program mereka untuk bermalam di lokasi tasik dibatalkan kerana ikan sudah banyak diperolehi. Sepanjang mereka berada di lokasi Tasik Merbau Jati tiada sebarang gangguan atau bunyi yang menakutkan. Mereka hanya mengambil masa tiga jam saja melakukan aktiviti memancing tanpa berhenti berpuluh ekor spesies ikan dari patin, lampam, baung dan toman berjaya didaratkan. Mereka pulang sebelum senja.

“Mana ada penunggu tasik, lokasi cantik, tenteram, kan aku dah cakap zaman moden ni mana ada pontianak,” Ngomil Kamarul lagi sambil memecut laju motosikalnya. Dia kelihatan begitu ceria dan bangga dengan tindakan berani yang tidak pernah memikirkan risikonya kelak.

Trip kedua diatur dalam masa terdekat bagi mengulangi kejayaan pertamanya. Kali ini Kamarul lebih berani sambil mencabar untuk melihat kalau ada penunggu tasik berkenaan seperti yang di war-warkan sebelum ini. Cabaran berani dari Kamarul kali ini kurang disenangi oleh semua rakan pancingnya yang terdiri dari rakan lama yang menyertai trip pertama minggu lepas. Mereka merancang untuk meninggalkan lokasi tapi Kamarul tiba-tiba hilang sebaik saja mereka berkemas peralatan pancing untuk pulang, keadaan menjadi kelam kabut yang akhirnya membuat laporan polis dan akhirnya seluruh kawasan tasik itu menjadi tumpuan masyarakat kampung, polis dan tentera.

Pencarian gagal hingga menelan masa satu minggu. Khidmat bomoh dan pawang dilakukan yang akhirnya Kamarul ditemui di bawah pokok rimbun dalam keadaan tidak bermaya dan tidak bercakap hingga meninggal dunia dua tahun lalu, cerita Pak Daud menamatkan misteri Tasik Merbau Jati yang kini sudah dibangunkan perkampungan orang asli.
Jangan mudah mencabar sesuatu yang kita tidak arif dengannya, kelak memakan diri sendiri.



Source:   Joran

Monday, 11 March 2013

Karang Bolong



Cerita Rakyat dari Banten




Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras.

Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit.

Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri," kata penasehat istana.

Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib.

"Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh."

Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya.

"Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang," kata penasehat istana dengan yakin.


Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang.

"Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku."

Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.


Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati.

Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi.

"Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri," kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet.

Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.

Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti.

"Cepat buatkan ramuan obatnya," perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji. Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.


Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti.

Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya.

"Aku kembali untuk memenuhi janjiku," kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya.

Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.

Source:  Folkstalenusantara
More Stories:  http://Gofishtalk.com




Sumber : http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=94&Itemid=49

Sunday, 3 March 2013

Orang tua, harimau tepok jaga tasik Bukit Koman

 

Oleh Sabaruddin Abd Ghani

Photo Credit:  Google Images

SEKITAR 1960-an, kawasan tertentu di Raub, Pahang menjadi sarang gerombolan komunis termasuk bekas lombong emas di Bukit Koman. Tempat itu sering dikunjungi anggota pengganas terbabit untuk mengambil air dan memancing.
SEKITAR 1960-an, kawasan tertentu di Raub, Pahang menjadi sarang gerombolan komunis termasuk bekas lombong emas di Bukit Koman. Tempat itu sering dikunjungi anggota pengganas terbabit untuk mengambil air dan memancing.

Sesekali mereka dilihat muncul di tepian bekas lombong seakan-akan tasik itu untuk memancing. Antara ikan yang menghuni di situ ialah kaloi, puyu, haruan dan keli. Penduduk yang memancing di situ jarang pulang dengan tangan kosong. Habis tidak pun tiga atau empat ekor kaloi dijinjing pulang, cerita Wang Chik.

Mengimbas kenangan memancing di situ sekitar 60-an, Wang Chik (bukan nama sebenar) mengakui ketika itu ada antara penduduk pekan kecil terbabit yang majoriti dihuni masyarakat Tionghua pernah terserempak dengan gerombolan komunis memancing dan mandi.

Pun begitu, katanya, dia dan dua rakan sebaya iaitu Boon Chai dan Bakri sesekali mencuri masuk ke lubuk itu kerana mahu menguji kegelojohan haruan dan kaloi meratah umpan.

Kenakalan tiga rakan tinggal berjiran itu sering mengunjungi tasik terbabit yang jika nasib kurang bernasib baik boleh mengundang risiko; membuatkan ibu bapa mereka naik angin.

Kesan lebam di telinga kanan Wang Chik dipulas ibunya membuktikan kedegilannya mengetepikan nasihat ibunya.

Bagi Wang Chik yang ketika itu menjangkau usia 18 tahun, ada sesuatu yang lebih merangsang dirinya untuk ke tasik itu. Dia tetap ke situ selagi apa yang dihajati belum kesampaian.

Dia tidak akan menceritakannya kepada sesiapa pun, melainkan apa yang diidamkan itu tertunai.

Pada hari itu, Sabtu jam 8.30 pagi, tiga serangkai ini dengan menggunakan tipu muslihat sekali lagi berjaya menyelinap ke lokasi yang sering mereka kunjungi itu. Cuma mengambil masa kira-kira 15 minit memandu kereta Datsun model 1960 yang dipandu Boon Chai, lokasi diidamkan berada di depan mata.

“Cuaca hari itu redup tetapi sehingga jam 11 pagi, tiada seekor ikan pun menyentuh umpan. Kami mula berasa bosan dan bersiap-siap mengemas peralatan untuk pulang.
“Namun, sebaik saya bangkit, seorang lelaki berusia dalam lingkungan 60-an muncul dari rimbunan pokok senduduk sambil membuang sesuatu ke dalam tasik. Orang tua tepuk (cacat) kaki kanan itu rasanya pernah saya temui di Sega tapi tak ingat bila,” cerita Wang Chik lagi.

Tidak lama selepas lelaki berusia melepasi setengah abad itu menabur sesuatu ke dalam bekas lombong, hujan agak lebat membasahi persekitaran. Ketika air tasik berkocak disiram hujan, kelihatan ikan rancak menyambar sesuatu.

Ada harapan nampaknya, itu ungkapan yang terdetik dalam hati Wang Chik.

Boon Chai dan Bakri kelihatan kalut mengenakan semula umpan pada kail masing-masing. Habuan pertama diperoleh apabila Boon Chai yang menggemari haruan, teruja dengan seekor haruan sebesar betis menggelupur di hujung kail.

Kali ini, nasib Wang Chik kurang menyerlah. Kailnya cuma mampu menjinakkan dua kaloi dan seekor puyu sebesar tiga jari sedangkan Bakri dan Boon Chai bagaikan berpesta ikan dengan tangkapan cukup lumayan untuk dijamu seisi keluarga.

“Pak cik tak berputus asa lalu beredar kira-kira 50 meter dari lokasi asal. Sambil memancing, mata melilau mengawasi persekitaran. Takut juga, manalah tahu sedang asyik memancing, harimau menyeringai di sebelah.

“Di situ pun kail pak cik kurang menjadi. Tangkapan yang dinaikkan dua ekor anak kaloi bersaiz tiga jari seakan-akan menguji kesabaran pak cik,” cerita Wang Chik lagi.

Wang Chik yang kini berusia 66 tahun dan menetap di Kampung Paya, Kota Kuala Muda menganggap peristiwa pernah dialami ketika remaja itu paling berharga baginya. Sukar baginya untuk melupakannya.

Kesan dua tapak kaki harimau yang dijumpai di tepi tasik berhampiran tempat dia menaikkan anak kaloi itu juga menghairankannya. Adakah tasik itu menjadi tempat harimau mandi atau minum?

Namun, persoalan itu terjawab ketika Wang Chik membuka pintu bahagian hadapan kereta Boon Chai sewaktu mereka mahu meninggalkan bekas lombong emas itu. Enam baung sebesar lengan yang dibungkus daun pisang menggeletek di tempat duduk sebelah pemandu.

Hasrat Wang Chik mahu membuktikan kepada penduduk pekan berkenaan yang tasik itu dihuni pelbagai spesies ikan termasuk baung kesampaian. Cemuhan penduduk menyatakannya budak mentah terpalit ke muka mereka sendiri.

Melihatkan kejayaan Wang Chik membawa pulang baung, seorang penduduk bertanya sama ada dia ada didatangi seorang lelaki tua tepuk ketika memancing di tasik itu. Ini kerana, penduduk itu mendakwa apa yang berlaku ke atas Wang Chik sama seperti pernah dialaminya.

Penduduk itu yang hampir putus asa bagi mendapatkan seekor patin untuk sajian isterinya yang mengandung anak sulung, akhirnya kesampaian apabila memancing di tasik bekas lombong itu selepas diberi sebatang rokok daun oleh seorang lelaki tua yang kaki kanannya tepuk.

Cerita lain lebih menarik ialah pernah sekumpulan enam pemancing yang datang ke tasik itu untuk menuba disergah dan diekori seekor harimau berbadan sasa yang sebelah kakinya tepuk. Dua hari selepas kejadian itu, tiga daripada mereka mengalami sakit misteri dengan meratah ikan mentah.

Apa pun, pelbagai andaian dibuat, ada yang yakin harimau itu jelmaan lelaki tua yang menjaga kawasan berkenaan.

Ada pula yang membuat andaian haiwan itu cacat mungkin terkena jerat atau perangkap dipasang komunis. Bagi Wang Chik, kegagalannya menjejak lelaki tua itu yang pernah bertemu di Sega menganggap itu semua berlaku atas kehendak Allah.

“Tasik itu menyimpan pelbagai misteri tersendiri. Pernah juga pak cik dengar cerita tasik itu ghaib tidak ditemui, mungkin yang datang ke situ dengan niat tidak baik.

Wednesday, 6 February 2013

Legenda Ikan Patin


Ikan patin adalah salah satu jenis ikan sungai atau air tawar. Ikan jenis ini memiliki bentuk yang unik. Badannya panjang sedikit memipih, berwana putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan, tidak bersisik, mulutnya kecil, memiliki sungut berjumlah 2-4 pasang yang berfungsi sebagai alat peraba. Ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar sungai dan lebih banyak mencari makan pada malam hari.

Ikan patin banyak dijumpai di Provinsi Riau, Indonesia. Menurut masyarakat setempat, dulunya ikan ini hanya ada di daerah aliran Sungai Indragiri, Sungai Siak, Sungai Kampar, dan Sungai Rokan. Ikan patin yang asli adalah berasal dari sungai dan memiliki aroma khas. Selain itu, ikan patin yang dari sungai biasanya memiliki ukuran lebih panjang dan lebih berat. Pada era tahun 1970-an hingga 1980-an, masyarakat Riau masih sering menjumpai ikan patin yang panjangnya sampai satu meter lebih.

Kini, ikan patin yang asli dari sungai sudah jarang dijumpai. Maka sejak 10 tahun terakhir, budidaya ikan patin sudah mulai ramai dilakukan oleh masyarakat Riau. Namun, hasilnya sangat berbeda dengan ikan asli dari sungai. Ikan patin hasil budidaya ukurannya lebih pendek dan ringan, rata-rata hanya sepanjang 25-50 centimeter dengan berat kurang dari satu kilogram dan terkadang masih berbau tanah. Walaupun demikian, jika ikan patin tersebut dimasak dengan bumbu yang benar, mencium aromanya saja sudah mampu menggugah selera bagi penikmatnya. Oleh karenanya, di sejumlah warung makan di Riau, menu masakan ikan patin menjadi salah satu menu favorit khas Melayu, khususnya masakan gulai ikan patin dan asam pedas ikan patin.

Namun, senikmat dan segurih apa pun ikan patin, tidak semua orang Melayu mau memakannya. Kenapa sebagian orang Melayu tidak mau memakan ikan patin? Mereka menganggap ikan patin itu sebagai keluarga atau leluhurnya. Terkait dengan hal ini, ada sebuah cerita rakyat yang telah melegenda di kalangan masyarakat Riau. Cerita rakyat tersebut mengisahkan seorang nelayan yang bernama Awang Gading, yang menemukan seorang bayi perempuan di atas batu di tepi sungai saat ia pulang memancing. Konon, bayi itu adalah keturunan raja ikan di sungai tersebut. Oleh karena merasa iba, si nelayan membawa bayi itu pulang ke rumahnya untuk ia rawat dan besarkan. Bayi itu diberinya nama Dayang Kumunah. Selama dalam asuhannya, si Nelayan membekali Dayang Kumunah dengan berbagai ilmu pengetahuan dan budi pekerti yang baik, sehingga ia pun tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang cerdas dan berbudi pekerti luhur. Setiap pemuda yang melihatnya akan terpikat kepadanya.

Pada suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya yang bernama Awangku Usop lewat di depan rumah Dayang Kumunah. Pemuda itu melihatnya sedang menjemur pakaian. Saat itu pula, Awangku Usop langsung jatuh hati kepada Dayang Kumunah dan berniat memperistrinya. Beberapa hari kemudian, Awangku Usop datang ke rumah Dayang Kumunah untuk meminangnya. Dayang Kumunah bersedia menerima pinangan Awang Usop, asalkan ia juga bersedia memenuhi syaratnya. Syarat apa yang akan diajukan Dayang Kumunah kepada Awang Usop? Mampukah Awang Usop memenuhi syarat itu? Ingin tahu kisah selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Ikan Patin berikut ini.

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Tanah Melayu hiduplah seorang nelayan tua yang bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di tepi sebuah sungai yang luas dan jernih. Walaupun hidup seorang diri, Awang Gading selalu merasa bahagia. Ia mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Pekerajaan sehari-harinya adalah menangkap ikan di sungai dan mencari kayu di hutan.

Suatu sore, sepulang dari hutan, Awang Gading pergi mengail di sungai. “Ah, semoga hari ini aku mendapat ikan besar,” gumam Awang Gading. Usai melemparkan kailnya ke dalam air, ia berdendang sambil menunggu kailnya. Berapa saat kemudian, umpannya pun di makan ikan. Dengan hati-hati disentakkannya kail itu. Apa yang terjadi? Ternyata ikannya terlepas. Lalu dipasangnya lagi umpan pada mata kailnya. Berkali-kali umpannya di makan ikan, namun saat kailnya ditarik, ikannya terlepas lagi.

“Air pasang telan ke insang
Air surut telan ke perut
Renggutlah…!
Biar putus jangan rabut,”

terdengar dendang Awang Gading sambil melempar pancingnya kembali.

Hari sudah mulai gelap. Namun, tak seekor ikan pun yang diperolehnya. “Rupanya, aku belum beruntung hari ini,” gumam Awang Gading. Usai bergumam, Awang Gading pun bergegas pulang. Namun, baru saja melangkah, tiba-tiba ia mendegar tangisan bayi. Dengan perasaan takut, Awang Gading mencari asal suara itu. Tak lama mencari, ia pun menemukan bayi perempuan yang mungil tergolek di atas batu. Tampaknya bayi itu baru saja dilahirkan oleh ibunya. Anak siapa gerangan? Kasihan, ditinggal seorang diri di tepi sungai,” Ucap Awang Gading dalam hati. Oleh karena merasa iba, dibawanya bayi itu pulang ke gubuknya.

Malam itu juga Awang Gading membawa bayi ke rumah tetua kampung. “Awang, berbahagialah, karena kamu dipercaya raja penghuni sungai untuk memelihara anaknya. Rawatlah ia dengan baik,” Tetua Kampung berpesan. “Terima kasih, Tetua! Saya akan merawat bayi ini dengan baik. Semoga kelak menjadi anak yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik,” jawab Awang Gading mengharap.

Keesokan harinya, Awang Gading mengadakan selamatan atas hadirnya bayi di tengah kehidupannya. Ia mengundang seluruh tetangganya. Awang Gading memberi nama bayi itu Dayang Kumunah. Usai acara tersebut, Awang Gading menimang-nimang sang bayi sambil mendendang, “Dayang sayang, anakku seorang…Cepatlah besar menjadi gadis dambaan.”

Kehadiran Dayang Kumunah dalam kehidupannya, membuat Awang Gading semakin giat bekerja. Ia sangat sayang dan perhatian terhadap Dayang. Awang Gading juga membekali Dayang Kumunah berbagai ilmu pengetuhan dan pelajaran budi pekerti. Setiap hari ia juga mengajak Dayang pergi mengail atau mencari kayu di hutan untuk mengenal kehidupan alam lebih dekat.

Waktu terus berjalan. Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi pekerti luhur. Ia juga sangat rajin membantu ayahnya. Namun sayang, Dayang Kumunah tidak pernah tertawa.

Suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya lewat di depan rumah Dayang. Pemuda itu bernama Awangku Usop. Saat melihat Dayang Kumunah sedang menjemur pakaian, Awangku Usop langsung jatuh hati kepadanya dan berniat untuk segera meminangnya.

Beberapa hari kemudian, Awangku Usop meminang Dayang Kumunah pada Awang Gading.

“Maaf, Tuan! Nama saya Awangku Usop. Saya dari desa sebelah,” kata Usop memperkenalkan diri.

“Ada apa gerangan, Ananda Awangku Usop?” tanya Awang Gading.

“Saya ke mari hendak meminang putri Tuan” pinang Awangku Usop.

Awang Gading tidak langsung memberikan jawaban. Keputusannya ada pada Dayang Kumunah. Lalu ia meminta pendapat Dayang Kumunah. “Anakku, Dayang! Bagaimana pendapatmu tentang pinangan Awangku Usop?” tanya Awang Gading pada Dayang yang sedang duduk di sampingya. Dayang Kumunah langsung menanggapi pinangan pemuda itu. “Kanda Usop, sebenarnya kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Saya berasal dari sungai dan mempunyai kebiasaan yang berlainan dengan manusia. Saya bersedia menjadi istri kanda Usop, tetapi dengan syarat, jangan pernah meminta saya untuk tertawa,” pinta Dayang Kumunah. Awangku Usop menyanggupi syarat itu. “Baiklah! Saya berjanji untuk memenuhi syarat itu,” kata Awangku Usop.

Seminggu kemudian, mereka pun menikah. Pesta pernikahan mereka berlangsung meriah. Semua kerabat dan tetangga kedua mempelai diundang. Para undangan turut gembira menyaksikan kedua pasangan yang serasi tersebut. Dayang Kumunah gadis yang sangat cantik dan Awangku Usop seorang pemuda yang sangat tampan. Mereka pun hidup berbahagia, saling mencintai dan saling menyayangi.

Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Beberapa minggu setelah mereka menikah, Awang Gading meninggal dunia karena sakit. Dayang Kumunah sangat sedih kehilangan ayah yang telah mendidik dan membesarkannya, meskipun bukan ayah kandungnya sendiri. Hingga berbulan-bulan lamanya, hati Dayang Kumunah diselimuti perasaan sedih. Untungnya, kesedihan itu segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Kehadiran mereka telah menghapus ingatan Dayang Kumunah kepada “ayahnya”. Ia pun kembali bahagia hidup bersama suami dan kelima anaknya.

Namun, Awang Usop merasa kebahagiaan mereka kurang lengkap sebelum melihat Dayang Kumunah tertawa. Memang, sejak pertama kali bertemu hingga kini, Awang Usop belum pernah melihat istrinya tertawa.

Suatu sore, Dayang Kumunah berkumpul bersama keluarganya di teras rumah. Saat itu, si Bungsu mulai dapat berjalan dengan tertatih-tatih. Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang Kumunah. Awang Usop meminta istrinya ikut tertawa. Dayang Kumunah menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya ia pun menuruti keinginan suaminya. Saat tertawa itulah, tiba-tiba tampak insang ikan di mulutnya. Menyadari hal itu, Dayang Kumunah segera berlari ke arah sungai. Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya.

Sesampainya di tepi sungai, perlahan-lahan tubuh Dayang Kumunah menjelma menjadi ikan dan segera melompat ke dalam air. Awang Usop pun baru menyadari kekhilafannya. “Maafkan aku, istriku! Aku sangat menyesal telah melanggar janjiku sendiri, karena memintamu untuk tertawa. Kembalilah ke rumah, istriku!” bujuk Awangku Usop.

Namun, semua sudah terlambat. Dayang Kumunah telah terjun ke sungai. Ia telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengilat tanpa sisik. Mukanya menyerupai raut wajah manusia. Ekornya seolah-olah sepasang kaki manusia yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan patin.

Sebelum menyelam ke dalam air, Dayang Kumunah berpesan kepada suaminya, “Kanda, peliharalah anak-anak kita dengan baik.”

Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih melihat Dayang Kumunah yang sangat mereka cintai itu telah menjadi ikan. Mereka pun berjanji tidak akan makan ikan patin, karena dianggap sebagai keluarga mereka. Itulah sebabnya sebagian orang Melayu tidak makan ikan patin.

* * *

Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral. Nilai-nilai tersebut di antaranya kewajiban mendidik anak, berbudi pekerti luhur, dan pantangan melanggar janji. Sifat kewajiban mendidik anak tercermin pada sifat Awang Gading yang telah mendidik dan membekali berbagai ilmu pengetahuan dan budi pekerti pada Dayang Kumunah. Sifat berbudi pekerti luhur tercermin pada sifat Dayang Kumunah. Meskipun cantik, ia tetap tidak sombong. Sementara itu pantangan yang dilanggar oleh Awangku Usop adalah melanggar janji. Ia telah mengingkari janjinya untuk tidak meminta Dayang Kumunah tertawa.

Mendidik anak dengan baik dan budi pekerti luhur patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi orang Melayu, mendidik anak adalah kewajiban orang tua, karena telah menjadi perintah ajaran agama dan adat lembaga. Mendidik dan memelihara anak tidak boleh diabaikan, karena kewajiban orang tua dalam mendidik anak tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Oleh karena itu, sifat ini sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Banyak petuah amanah yang berkaitan dengan mendidik anak yang diwariskan dalam budaya Melayu, salah satu di antaranya adalah seperti berikut:

anak dididik sejak kecil
anak diajar sejak terpancar
anak dibela selamanya

Sementara sifat suka mengingkari janji sangat dipantangkan dalam kehidupan orang-orang Melayu, karena sifat ini termasuk salah satu ciri orang munafik. Petuah amanah tentang sifat munafik juga banyak diwariskan dalam budaya Melayu, di antaranya seperti berikut:

apa tanda orang munafik,
lidah bercabang, akal berbalik

(SM/sas/42/11-07)

Sumber:
Isi cerita diringkas dari Daryatun. 2006. Legenda Ikan Patin. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
------, 1994/1995. “ ‘Ejekan‘ terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau.” Riau: Bappeda Tingkat I Riau.
Abdul Mu‘thi, Abu Muhammad. 2007. “Akhlak: Menepati Janji.” (http://asysyariah.com/syariah.php, diakses tanggal 12 November 2007).
Anonim. “Sejarah Singkat Ikan Patin.” (http://iptek.apjii.or.id/budidaya%20perikanan/PEMD/Patin/, diakses tanggal 12 November 2007)
Anonim. 2007. “Ikan Patin Sungai Mahakam.” (http://jb2fishingclub.blogspot.com/2007/09/ikan-patin-sungai-mahakam.html, diakses tanggal 12 November 2007).
Triana, Neli. 2006. “Santap Ikan Patin di Bumi Melayu Riau”. Kompas. (http://www.kompas.co.id/jalanjalan/news/0604/17/104923.htm, diakses tanggal 12 November 2007.
Http://melayuonline.com Via  Folktales Nusantara

Sunday, 27 January 2013

Kisah Pemancing Terserempak Bunian Mandi (Seram!)

Sebagai seorang pemancing yang tegar, diganggu makhluk ketika memancing dianggap sebagai satu pengalaman yang cukup mencabar. Ada juga yang sudah lali dengan gangguan tersebut. Kini ada yang terserempak dengan bunian.
 
Melayukini.net – Kisah Pemancing Terserempak Bunian Mandi | Kegilaan kaki pancing terhadap hobi itu sudah lama diketahui. Mereka sanggup membelanjakan ribuan ringgit untuk membeli peralatan memancing sahaja.Ada pula yang mengambil cuti selama berminggu-minggu semata-mata untuk mencari lubuk ikan.Namun, di sebalik semua itu, cerita-cerita misteri sering melingkari kaki-kaki pancing tegar ini. Jurnal minggu ini berkesempatan berbual-bual dengan beberapa kaki pancing mengenai kisah pelik yang pernah mereka alami.Salah seorang daripada mereka ialah kartunis terkenal Ibrahim Anon, atau Ujang, 45.
 
 
Penggemar ikan kelah dan sebarau ini berkata dia pernah terserempak dengan harimau, gajah dan hampir dipatuk ular semasa memancing di Tasik Kenyir, Hulu Terengganu.
“Saya akan memancing di sana setiap tahun. Ngauman harimau sudah biasa didengar.
“Jadi untuk mengelakkan daripada bertembung dengan haiwan pemakan daging itu, kami kumpulan pemancing bergerak perlahan-lahan ke tempat lain.
Harimau
“Pantang harimau ialah jangan diganggu,” kata Ujang yang kini mengusahakan perniagaan berbentuk penganjuran aktiviti memancing.
Ceritanya lagi, tindakan yang sama juga dilakukan jika ternampak kelibat gajah.
Menyentuh mengenai kejadian aneh, Ujang memberitahu dia tidak pernah mendengar suara misteri apatah lagi terserempak dengan bunian.
UJANG hanya pernah terserempak kelibat gajah liar dan mendengar ngauman harimau.
“Mungkin itu perasaan kita sahaja. Paling penting niat kita adalah untuk memancing, bukan ada tujuan lain,” tegasnya yang hampir lemas dalam satu kejadian bot terbalik di Sungai Tembeling, Pahang tetapi mujurlah dia pandai berenang.
Seorang lagi kaki pancing, Ku Ahmad Adzam Ku Saud, 33, yang berasal dari Alor Setar, Kedah, pernah berasa seperti ada orang menepuk bahu kanannya semasa memancing di Taman Negara, Kuala Tahan, Pahang.
“Namun, apabila menoleh, tiada siapa di belakang saya.
“Pada mulanya saya fikir itu hanyalah khayalan tetapi perkara itu berlaku berulang kali menyebabkan saya percaya ia perbuatan makhluk halus,” kata penggemar ikan sebarau dan toman ini.
Bicaranya lagi, kejadian itu menyebabkan dia ketakutan dan kembali ke khemah semula.
Ku Ahmad demam selama beberapa hari selepas peristiwa itu.
“Saya juga pernah melihat gadis bunian sedang mandi. Dia kelihatan seperti wanita biasa tetapi kulitnya lebih putih dan berwajah cantik.
“Saya cuma nampak muka dan tapak tangannya. Tetapi itu sudah cukup untuk membuatkan saya terpikat,” katanya tersenyum.
Bagi Mohd. Suhaimi Abdul Karim, 29, yang berasal dari Seremban, Negeri Sembilan, dia hampir lemas selepas bot yang dinaiki bersama rakan karam semasa memancing di Pulau Sembilan, Perak.
Kejadian itu berlaku lima tahun lepas.
“Bayangkan pada masa itu saya dan tujuh orang rakan lain tidak memakai jaket keselamatan.
“Kami hanya berpaut pada badan bot tersebut dari pukul 12 tengah malam hingga 6 pagi sebelum diselamatkan.
“Selepas peristiwa itu, saya tidak lagi pergi memancing di laut,” katanya yang memberitahu bot tersebut bocor sebelum tenggelam.
Langsuir
Suhaimi juga mendakwa ternampak hantu langsuir semasa memancing di Taman Negara, Kuala Tahan.
“Ketika itu saya dan rakan-rakan berkhemah di hutan. Kami tidak nyenyak tidur kerana mendengar bunyi bising yang berulang kali.
“Namun, akhirnya mereka tertidur juga kerana terlalu penat kecuali saya.
“Saya sebaliknya keluar dari khemah untuk mencari arah bunyi tersebut.
“Sebaik sahaja dijumpai, saya terkejut kerana rupa-rupanya ada hantu langsuir sedang mengilai di atas sebatang pokok,” ceritanya.
Katanya lagi, hantu itu memakai pakaian putih, berambut panjang, matanya merah manakala giginya tajam.
“Akibat kejadian itu, saya demam panas selama beberapa hari,” ujarnya.
Mohd. Hanipah Wahi, 47, dari Sepang, Selangor pula menceritakan pengalamannya memancing di sebuah jeti lama di Bagan Datoh, Perak pada awal tahun 1990-an.
“Saya ke sana kerana rakan mengatakan kawasan itu terdapat banyak ikan. Jadi saya pergi seorang diri dengan menyewa sebuah bot.
“Hasil tangkapan cukup banyak tetapi apabila bercakap dengan orang kampung, mereka kata mereka tidak berani memancing atau menangkap ikan di situ kerana sering terserempak dengan hantu sungai,” katanya.
Melayukini.net - Kalau anda merupakan seorang yang minat membaca akhbar sisipan Joran, sudah mesti mempunyai satu kolum mengenai kisah-kisah pelik yang dihadapi oleh para pemancing ketika mereka sibuk mengail ikan. Tidak kiralah jumpa bunian atau apa sahaja, yang penting makhluk halus itu memang wujud.
 
 
Sumber: Harian Metro Online | Koleksi Fakta Dan Informasi Melayukini.net