Saturday, 14 February 2015

Black Bullhead



Black bullhead
Ameiurus melas by Duane Raver.png
Conservation status
Not evaluated (IUCN 3.1)
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Actinopterygii
Order: Siluriformes
Family: Ictaluridae
Genus: Ameiurus
Species: A. melas
Binomial name
Ameiurus melas Rafinesque, 1820
The black bullhead (Ameiurus melas) is a species of bullhead catfish. Like other bullhead catfish, it has the ability to thrive in waters that are low in oxygen, brackish, turbid and/or very warm.[1] It also has barbels located near its mouth, a broad head, spiny fins and no scales. It can be identified from other bullheads as the barbels are black, and it has a tan crescent around the tail. Its caudal fin is truncate (squared off at the corners).[2] Like virtually all catfish, it is nocturnal, preferring to feed at night, although young will feed during the day. It generally does not get as large as the channel or blue catfish; with average adult weights are in the one to two-pound range, and almost never as large as five pounds. It has an average length of 8-14 inches, with the largest specimen being 24 inches, making it the largest of the bullheads. It is typically black or dark brown on the dorsal side of its body and yellow or white on the ventral side.[2]
Like most of the bullheads (and even the cousin flathead catfish), it has a squared tail fin, which is strikingly different from the forked tail of channel and blue catfish. It is a bottom-rover fish, meaning it is well-adapted for bottom living. It is typically dorso-ventrally flattened, and has a slightly humped back.[3] Its color will depend on the area where it is taken, but it generally is darker than brown or yellow bullheads. It can be distinguished from a flathead in that the black bullhead's lower lip does not protrude past the upper lip. Distinguishing it from the brown bullhead is a bit more difficult, depending on the area where they are caught, but a distinguishing detail between the two includes a nearly smooth pectoral spine on the black bullhead with the brown being strongly barbed. The anal fin also has a gray base, and the tail also has a pale bar. Also, the brown bullhead will generally have 21 to 24 soft rays through its anal fin as opposed to the black bullhead's 17 to 21. The brown bullhead is also typically mottled brown and green on top instead of the darker black. Both the black and brown bullheads can easily be distinguished from the yellow bullhead as the yellow bullhead has white barbels under its mouth.[4]

Habitat

Black bullheads are found throughout the central United States, often in stagnant or slow-moving waters with soft bottoms. They have been known to congregate in confined spaces, such as lake outlets or under dams. They are very tolerant fish, and are able to live in muddy water, with warmer temperatures and in water with lower levels of oxygen, which reduce competition from other fish.[4] Black bullheads also occur as an invasive species in large parts of Europe.[5]

Diet

They are omnivorous – will eat almost anything, from grains and other plant matter to insects, dead or living fish and crustaceans. They have short, pointed, conical teeth, formed in multiple rows called cardiform teeth. Black bullheads have no scales; instead, they have about 100,000 taste receptors placed all over their bodies. Many of these are located on the barbels near their mouths. The receptors help the fish to identify food in their dark habitats. During the winter, black bullheads will decrease food intake, and may stop eating all together. Instead, they will bury themselves around the shore line of the lake in debris, with only their gills exposed. This "hibernation" allows them to survive conditions of low oxygen and low temperature.[6]

Reproduction

Black bullheads will start to spawn in April and continue through June. The females will scoop out a small hole or depression in the lake floor and will lay anywhere from 2000 to 6000 eggs. The males fertilize the eggs, then care for them. When the eggs hatch a week later, both parents will watch over the fry for a short while.[2]

Angling

Considered rough fish, black bullheads are seldom caught for sport. Their flesh is pale in color, and has a good flavor, but it may be soft in summer. They are the largest of the bullheads, and are one of several catfish informally referred to as mud catfish. They are not caught often, and usually it is by accident. They have been introduced in many areas of the US because of their ability to survive (and even thrive) in less than ideal conditions, but they are seldom used in active stocking programs due to their relatively low desirability.
Black bullheads can be caught using similar techniques as for channel or blue catfish, although their small size may require smaller bait and hooks. Like most catfish, they are most active during the night, and tend to be less active during the day, bedding under piers or in shady shore areas.
In some areas of little to no fishing pressure, black bullheads have been found to be more aggressive and have been caught while casting and retrieving metal spoon lures.

Defense

At the base of their pectoral and dorsal fins are spines, which they can use as spurs to cut predators

From Wikipedia, the free encyclopedia.


Tip dan Petua Mengelak Mabuk Laut



Rasional – mengikut pakar perubatan. GINJAL dibelakang telinga memainkan fungsi penting dalam menseimbangkan tubuh badan. Digalakkan mengurut ginjal dibelakang telinga terutama bila mula merasa pening. Menggerakkan kepala ke kiri dan kanan selain melakukan senaman ringan mampu menghilangkan rasa mabuk laut.

1.Bagi nelayan, MINUM AIR LAUT dikuala mampu menahan diri daripada mabuk laut. Boleh diminum hingga ‘sendawa’ dan boleh juga sedikit sahaja kerana ini boleh menahan tekak dari merasa loya.

2. Syor nelayan dan TLDM, agar orang yang mabuk laut, TERJUN DAN MANDI LAUT tapi mesti pandai berenang. Dengan menyelam beberapa ketika badan dan kepala akan menjadi segar semula.

3. OREN SUNKIST juga berguna. Ada orang kata,limau tak boleh dibawa kelaut, takut ribut. Kita hanya perlu bawa kulit Oren Sunkist saja. Kalau boleh kunyah kulit Oren berkenaan sepanjang berada di laut. Kalau tak sanggup, kunyahlah sebelum perjalanan dan jika terasa loya semula, kita kena kunyah lagi.

4. Cuba makan KELEDEK MENTAH. Rasionalnya mudah, keledek mentah mempunyai sedikit getah yang boleh membuat mulut kita tidak rasa loya.

5. Makan PISANG KELAT. Rasionalnya sama seperti keledek. Untuk lebih mujarab, titiskan sedikit air limau sebelum memakannya.

6. Selit kan SAYUR KANGKUNG dipinggang atau poket.Pastikan ia tidak jatuh sepanjang kita memancing.

7.Tumbuk LADA HITAM yang dicampur dengan HALIA BARA, kemudian sapu diperut terutama bahagian pusat sebelum ke laut.

8. Sebelum memancing , jangan minum minuman yang BERKRIM ATAU BERSUSU. Seeloknya bawa AIR OREN sebagai minuman semasa memancing.

9. 5/6 Jam sebelum naik bot jangan makan makanan berminyak saperti Kerepok Lekor Goreng, Pisang Goreng atau yang bersamaan.

10. Semasa diatas bot jangan pandang kelantai bot lama-lama, sentiasa padang kearah sekeling saperti pulau, bot disekitar atau jika waktu malam pandang cahaya lampu bot lain, cahaya di Pulau  atau cahaya lampu di daratan.

11. Elakkan bau asap eksos bot (minyak disel), sebaiknya duduk dibahagian depan bot ketika dalam perjalan pergi/balik.

12. Mabuk laut akan terasa bila bot berlabuh / 'Parking", jika rasa mual keluarkan muntah sehabisnya dan relak tidur2 ayam serta sapu minyak angin banyak2 di hidung, telinga dan kawasan muka.
 
 Sumber : mycandat.blogspot.com

Manfaat dan Khasiat Ikan Laut bagi Ibu Hamil.

 ikan









Bagi ibu hamil, mengkonsumsi ikan laut diyakini mampu  mencerdaskan otak janin yang dikandungnya, Karena ikan laut bermanfaat bagi ibu hamil. Kecerdasan itu akan semakin kelihatan saat anak berusia tiga tahun. Pada sebuah penelitian membuktikan bahwa seorang ibu hamil yang mengkonsumsi ikan laut selama hamil terbukti memiliki anak yang lebih cerdas dan kemampuan motoriknya lebih baik dari pada anak yang semasa dalam kandungan ibu nya tidak mengkonsumsi ikan laut.

Ikan laut segar lebih dianjurkan kepada ibu hamil. Tetapi bila tidak ada, ikan kering ataupun ikan yang diawetkan juga bermanfaat dan berkhasiat bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Hal itu bisa menjadikan anak yang akan dilahirkan mempunyai kemampuan menyerap kosa kata dan menangkap visual lebih baik dan kemampuan motorik yang lebih baik. Karena ternyata perkembangan otak bayi sangat ditentukan pada saat dia di dalam kandungan. Hal itu terjadi pada saat trisemester kedua masa kehamilan ibu.

Manfaat ikan laut tidak hanya itu saja, ikan laut  yang kaya akan protein itu juga bermanfaat mencegah kebutaan. Manfaat itu juga bisa diperoleh dari sayuran hijau seperti, brokoli, bayam dan buncis. Para ahli mengatakan jika ibu hamil tidak menyertakan dua jenis makanan tersebut ( ikan laut dan sayuran hijau ) maka anaknya kelak butuh kaca mata untuk membantu penglihatannya. Meskipun begitu masalah penglihatan dapat dihindari sebelum melahirkan yaitu dengan cara mengkonsumsi makanan yang kaya DHA. Sedangkan DHA sendiri banya terdapat pada ikan laut.

Sedangkan contoh ikan yang banyak mengandung DHA adalah ikan tuna, salmon, makarel, dan sarden. Meskipun begitu dalam mengkonsumsi ikan terutama ikan mentah harus hati-hati. karena  makanan laut juga mengandung microrganisme yang juga dapat beresiko bagi ibu hamil. Jika anda masih ragu dengan makanan laut, anda bisa menggantinya dengan makanan yang lebih aman  contohnya, daging sapi, ayam, telur atau ikan dari air darat. Karena bagaimanapun selain bermanfaat ikan laut juga beresiko karena beberapa ikan laut memiliki kadar merkuri yang tinggi. Oleh sebab itu dianjurkan bagi ibu hamil agar memilih ikan laut dengan benar. Kalau tidak manfaat ikan laut itu akan hilang dan berganti menjadi penyakit. SEMOGA BERMANFAAT…..!!!!!

Monday, 26 January 2015

BUBU


A. Pendahuluan
Bubu adalah alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan, yang berupa jebakan, dan bersifat pasif. Bubu sering juga disebut perangkap “ traps “ dan penghadang “ guiding barriers “.
Dalam operasionalnya, bubu terdiri dari tiga jenis, yaitu :
1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots).
Bubu yang daerah operasionalnya berada di dasar perairan.
2. Bubu Apung (Floating Fish Pots).
Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan.
3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots).
Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan.
Disamping ketiga bubu yang disebutkan di atas, terdapat beberapa jenis bubu yang lain seperti :
  1. Bubu Jermal.
Termasuk jermal besar yang merupakan perangkap pasang surut (tidal trap).
  1. Bubu Ambai.
Disebut juga ambai benar, bubu tiang, termasuk pasang surut ukuran kecil.
  1. Bubu Apolo.
Hampir sama dengan bubu ambai, bedanya ia mempunyai 2 kantong, khusus
menangkap udang rebon.
B. Konstruksi Bubu
Bentuk bubu bervariasi. Ada yang seperti sangkar (cages), silinder (cylindrical),gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu (bamboo`s splitting or-screen).
Secara umum, bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeh, pintu.
Ø Badan (body).
Berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung.
Ø Mulut (funnel).
Berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tidak dapat keluar.
Ø Pintu.
Bagian tempat pengambilan hasil tangkapan.
B.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Untuk bubu dasar, ukuran bubu dasar bervariasi, menurut besar kecilnya yang dibuat menurut kebutuhan. Untuk bubu kecil, umumnya berukuran panjang 1m, lebar 50-75 cm, tinggi 25-30 cm. untuk bubu besar dapat mencapai ukuran panjang 3,5 m, lebar 2 m, tinggi 75-100 cm.
B.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Tipe bubu apung berbeda dengan bubu dasar. Bentuk bubu apung ini bisa silindris, bisa juga menyerupai kurung-kurung atau kantong yang disebut sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit bambu yang penggunaannya ada yang diletakkan tepat di bagian atasnya.
B.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Bubu hanyut atau “ pakaja “ termasuk bubu ukuran kecil, berbentuk silindris, panjang 0,75 m, diameter 0,4-0,5 m.
B.4. Bubu Jermal
Ukuran bubu jermal, panjang 10 m, diameter mulut 6 m, besar mata pada bagian badan 3 cm dan kantong 2 cm.
B.5. Bubu Ambai
Bubu ambai termasuk perangkap pasang surut berukuran kecil, panjang keseluruhan antara 7-7,5 m. bahan jaring terbuat dari nilon (polyfilament). Jaring ambai terdiri dari empat bagian menurut besar kecilnya mata jaring, yaitu bagian muka, tengah, belakang dan kantung. Mulut jaring ada yang berbentuk bulat, ada juga yang berbentuk empat persegi berukuran 2,6 x 4,7 m. pada kanan-kiri mulut terdapat gelang, terbuat dari rotan maupun besi yang jumlahnya 2-4 buah. Gelang- gelang tersebut dimasukkan dalam banyaknya jaring ambai dan dipasang melintang memotong jurusan arus. Satu deretan ambai terdiri dari 10-22 buah yang merupakan satu unit, bahkan ada yang mencapai 60-100 buah/unit.
B.6. Bubu Apolo
Bahan jaring dibuat dari benang nilon halus yang terdiri dari bagian-bagian mulut, badan, kaki dan kantung. Panjang jaring keseluruhan mencapai 11 m. Mulut jaring berbentuk empat persegi dengan lekukan bagian kiri dan kanan. Panjang badan 3,75 m, kaki 7,25 m dan lebar 0,60 m. pada ujubg kaki terdapat mestak yang selanjutnya diikuti oleh adanya dua kantung yang panjangnya 1,60 m dan lebar 0,60 m.
C. Hasil tangkapan Bubu
C.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Hasil tangkapan dengan bubu dasar umumnya terdiri dari jenis-jenis ikan, udang kualitas baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap ( Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dll.
C.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Hasil tangkapan bubu apung adalah jenis-jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dll.
C.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Hasil tangkapan bubu hanyut adalah ikan torani, ikan terbang (flying fish).
C.4. Bubu Ambai
Hasil tangkapan bubu ambai bervariasi menurut besar kecilnya mata jaring yang digunakan. Namun, pada umumnya hasil tangkapannya adalah jenis-jenis udang.
C.5. Bubu Apolo
Hasil tangkapan bubu apolo sama dengan hasil tangkapan dengan menggunakan bubu ambai, yakni jenis-jenis udang.
D. Daerah Penangkapan
D.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang atau diantara karang-karang atau bebatuan.
D.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu apung dihubungkan dengan tali yang disesuaikan dengan kedalaman tali, yang biasanya dipasang pada kedalaman 1,5 kali dari kedalaman air.
D.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Dalam operasi penangkapan, bubu hanyut ini sesuai dengan namanya yaitu dengan menghanyutkan ke dalam air.
D.4. Bubu Jermal dan Bubu Apolo
Dalam operasi penangkapan, kedua bubu di atas diletakkan pada daerah pasang surut (tidal trap). Umumnya dioperasikan di daerah perairan Sumatera.
D.5. Bubu Ambai
Lokasi penangkapan bubu ambai dilakukan antara 1-2 mil dari pantai.
E. Alat Bantu Penangkapan
Dalam operasi penangkapan, terdapat alat bantu penangkapan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak.
Alat bantu penangkapan tersebut antara lain :
· Umpan.
Umpan diletakkan di dalam bubu yang akan dioperasikan. Umpan yang dibuat disesuaikan dengan jenis ikan ataupun udang yg menjadi tujuan penangkapan.
· Rumpon.
Pemasangan rumpon berguna dalam pengumpulan ikan.
· Pelampung.
Penggunaan pelampung membantu dalam pemasangan bubu, dengan tujuan agar memudahkan mengetahui tempat-tempat dimana bubu dipasang.
· Perahu.
Perahu digunakan sebagai alat transportasi dari darat ke laut (daerah tempat pemasangan bubu).
· Katrol.
Membantu dalam pengangkatan bubu. Biasanya penggunaan katrol pada pengoperasian bubu jermal.
F. Teknik Operasi (Sitting dan Hunting)
F.1. Bubu Dasar (Ground Fish Pots)
Dalam operasional penangkapannya bisa tunggal (umumnya bubu berukuran
besar), bisa ganda (umumnya bubu berukuran kecil atau sedang) yang dalam
pengoperasiannya dirangkai dengan tali panjang yang pada jarak tertentu diikatkan
bubu tersebut. Bubu dipasang di daerah perairan karang atau diantara karang-karang
atau bebatuan. Bubu dilengkapi dengan pelampung yang dihubungkan dengan tali
panjang. Setelah bubu diletakkan di daerah operasi, bubu ditinggalkan, untuk
kemudian diambil 2-3 hari setelah dipasang, kadang hingga beberapa hari.
F.2. Bubu Apung (Floating Fish Pots)
Bubu apung dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu, dilabuh melalui
tali panjang dan dihubungkan dengan jangkar. Panjang tali disesuaikan dengan
kedalaman air, umumnya 1,5 kali dari kedalaman air.
F.3. Bubu Hanyut (Drifting Fish Pots)
Pada waktu penangkapan, bubu hanyut diatur dalam kelompok-kelompok yang
kemudian dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya sehingga jumlahnya
menjadi banyak, antara 20-30 buah, tergantung besar kecil perahu/kapal yang akan
digunakan dalam penangkapan.
Operasi penangkapan dilakukan sebagai berikut :
  1. Pada sekeliling bubu diikatkan rumput laut.
  2. Bubu disusun dalam 3 kelompok yang saling berhubungan melalui tali penonda (drifting line).
  3. Penyusunan kelompok (contohnya ada 20 buah bubu) : 10 buah diikatkan pada ujung tali penonda terakhir, kelompok berikutnya terdiri dari 8 buah dan selanjutnya 4 buah lalu disambung dengan tali penonda yang langsung diikat dengan perahu penangkap dan diulur sampai + antara 60-150 m.
F.4. Bubu Jermal
Pada bubu jermal, operasi penangkapan dilakukan dengan menekan galah yang
terdapat pada kanan/kiri mulut jaring ke bawah sampai di dasar sehingga mulut
kantung jaring terbuka. Bubu kemudian diangkat setelah dibiarkan 20-30 menit.
Pengambilan hasil tangkapan dilakukan dengan menutup mulut jaring dengan cara
mengangkat bibir bawah ke atas, kemudian diikuti mengangkat bagian-bagian tengah
kantong melalui katrol-katrol. Pengambilan hasil dilakukan dengan membuka ikatan
tali pada ujung belakang kantong.
F.5. Bubu Ambai
Penangkapan dengan bubu ambai dilakukan pada waktu air pasang maupun surut.
Arah dari mulut jaring dapat dibolak-balik dihadapkan darimana datangnya arus.
Setelah 15-20 dari pemasangan, dapat dilakukan pengambilan hasil, yaitu dengan
mengangkat bagian bawah mulut ke permukaan air dengan mempertemukan bibir
atas dan bawah. Demikian seterusnya dilakukan hingga seluruh deretan ambai selesai
dikerjakan, kemudian dilakukan pembukaan tali-tali pengikat pada ujung belakang
kantung. Operasi penangkapan dilakukan 2-3 orang untuk tiap kali penangkapan,
tergantung banyak sedikitnya unit atau jaring yang dipakai.
F.6. Bubu Apolo
Pengoperasian bubu apolo dilakukan baik siang ataupun malam hari pada waktu
air pasang maupun surut. Pengoperasian apolo ini memerlukan 2-3 orang. Tempat
melakukan operasi penangkapan, yakni 1-2 mil dari pantai.
G. Hal-hal Yang Mempengaruhi Penangkapan
Dalam setiap operasi penangkapan nelayan harus memperhatikan hal-hal yang
mungkin akan mempengaruhi hasil tangkapannya.Antara lain factor adanya lampu
sebagai alat bantu atau mungkin rumpon.Selain hal tersebut diatas perlu
diperhatikan efektifitas penangkapan,sehingga perlu adanya perkiraan hari dan
hitungan bulan(apakah ini termasuk bulan terang ataukah termasuk bulan mati)
H.Sumber Bacaan
Alat Penangkapan Ikan Dan Udang Laut di Indonesia.Nomor 50 Th. 1988/1989.
Edisi khusus. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta.

Sumber