Showing posts with label Fishing Spots. Show all posts
Showing posts with label Fishing Spots. Show all posts

Monday, 13 April 2015

Cara mancing kakap putih di muara

teknik mancing barramundi
teknik mancing barramundi

Kali ini mancingmania.net akan mencoba memberikan sedikit penjelasan mengenai "Cara mancing kakap putih di muara" yang dapat anda jadikan masukan dan bahan referensi untuk memancing anda.
Mengingat perkembangan internet di Indonesia semakin bagus, banyak para pemancing menggunakan teknologi internet sebagai sarana untuk mencari informasi cara memancing, cara membuat umpan yang jitu, tehnik memancing, harga alat pancing (joran, reel, popper, minnow, bait casting, senar), tempat dan spot memancing yang banyak ikannya. Oleh karena itu, mancingmania.net mencoba memberikan beberapa tutorial dan artikel bagi para pemancing untuk memudahkan pencarian.
Pada artikel yang akan di bahas mancingmania.net terkait judul "Cara mancing kakap putih di muara", mungkin bagi sebagian pemancing kurang lengkap dan kurang jelas. Anda dapat mencari informasi yang di inginkan dengan mengetikkan kata kunci di kolom pencarian yang sudah tersedia.
Baca artikel : Cara mancing kakap putih di muara

teknik mancing barramundi
Teknik mancing kakap putih di muara dan laut –  Untuk mendapatkan ikan kakap putih atau biasa di sebut barramundi cukup di bilang susah. Mengapa demikian? karena kakap putih termasuk ikan yang gesit dan cerdik. Oleh sebab itu, dibutuhkan umpan dan teknik yang tepat untuk mancing kakap putih ini
Untuk memancing ikan kakap putih pertama kita harus mengetahui dimana sarang / tempat dimana kakap putih barramundi banyak dijumpai
Ciri -ciri tempat atau sarang barramundi :
  • Guguran bebatuan.
  • Pohon rubuh atau tumbang.
  • Patok -patok bambu dan wadas / palung di dasar sungai / muara
  • Kedalaman minimal 1,5 meter up
Tehnik dasar mancing kakap putih atau barramundi :

  • Teknik koncer atau ngoncer : Dengan di koncer tehnik ini mudah dilakukan karena umpan tinggal di lemparkan saja dan joran di tancapkan di pinggir tanggul, tinggal menunggu ikan memakan umpan.
    • Rangkaian mancing koncer : Rangkaian pancing tunggal . kail di ikat di leader / gembes 60 lbs – 100 lbs. panjang leader 30 cm – 50 cm . Bisa jg leader di ikatkan ke kili-kili . Tehnik ngoncer sering juga dilakukan dengan aktif joran selalu di pegang dan kenur di tarik ulur perlahan-lahan agar udang putih hidup selalu aktif berenang menyelam . Dan ikan terangsang untuk memakan umpan. Hanya memang tehnik ini dilakukan dengan latihan rutin agar bs merasakan gerakan larinya udang / umpan hidup tsb , dan dg insting yg kuat . Biasanya tehnik ngoncer kail dikaitkan di ekor udang putih hidup.Saat umpan di makan ikan maka hrs ada efect back drop ( mengulur kenur 3- 5 meter ) baru joran di sentakkan saat kenur sdh menegang . Sehingga saat joran di tancapkan di tanggul kenur harus di jepit di karet di dekat gagang joran dan kenur di beri spare agar terulur 3- 5 meter.
  • Tehnik ngelicir atau gantung : Tehnik ini biasanya joran selalu aktif di pegang sambil kenur di mainkan pelan2 . Kecuali sekali2 joran bs saja di letakkan pasif dan umpan tetap tergantung minimal 60 % kedalaman air. Tehnik ini lebih efectif bila memancing di spot bebatuan atau rumpon atau patok bambu / rumpon pohon tumbang dan terjangkau joran jaraknya. Kail di ikatkan / di kaitkan di tanduk kepala umpan udang putih hidup ( bisa di ikat dengan benang ) . Saat umpan dimakan ikan maka joran hanya di turunkan 30 cm ke bawah dan langsung di sentakkan ( agar ikan tdk masuk ke rumpon ) . biasanya tehnik ini kail akan menancap di mulut ikan tdk smpai tertelan masuk ke perut ikan.
  • Teknik mancing umbul atau pelampung : Untuk memancing kakap putih atau barramundi adalah dengan cara memakai umbul / pelampung ( bs di buat dari gabus / stryrofoam dllnya ) . Tehnik pakai pelampung biasa di lakukan di spot rumpon 2 yg tdk terjangkau joran. Cara pemasangan umpan dan cara menyentak joran sama dengan tehnik ngelicir / gantung . hanya tehnik ini lebih bs di lihat mata saat umpan dimakan ikan , pelampung akan langsung tersentak masuk kedalam air. Jadi dibutuhkan konsentrasi yg ektra untuk melihat pelampung dan reflek menyentakkan joran. Tehnik lainnya adalah dengan cara jegger / tenggar . biasanya tehnik ini pakai umpan hidup berupa ikan hidup ( anak belanak ukuran 5 – 10 cm , ikan gabus , mujair , anak bandeng , boso dllnya ) . Tehnik ini biasa dilakukan pada malam hari. umpan di gantung 15 – 30 cm dalam nya dari permukaan air . di atas leader di beri timah bolong yg cukup besar . Umpan di tempatkan di pinggir bebatuan atau rumpon atau tepi sungai . Joran di tancapkan yg kuat di tepi sungai dan kenur di jepit di gagang joran dg diberi spare uluran 5 – 8 meter.
Untuk tutorial cara memancing barramundi atau kakap putih di atas hanya refernsi penulis yang di dapat dari internet. Untuk mendapatkan kakap putih dengan target besar, pengalaman dan kemujuran anda juga cukup berpengaruh.

Credit:Sumber

Thursday, 19 March 2015

Sport Fishing

Image result for Free Articles fishing

If you like sport fishing, you surely will like to fish for redfish. Redfish is a common name for a range of species of fish throughout the English-speaking world. It is commonly applied to members of the deep-sea genus Sebastes, or the reef dwelling snappers, Lutjanus. It is also applied to the slimeheads or roughies (family Trachichthyidae), and the alfonsinos (Berycidae). This feisty species is one of the best fighters in the inshore spectrum and, if cooked correctly, a great addition to the barbeque menu. Even some restaurants have adopted the fish as a specialty. For example, at the famous Redfish Seafood Grill and Bar on Bourbon Street, New Orleans, they headline, “At Redfish, we serve up a parade of award-winning French Quarter specialties, including classics like Blackened Redfish, Crawfish Etouffee and Jambalaya.”

Young redfish, or red drum as they are often called, feed in the shallows on clams, crabs, mussels and shrimp. Red drum are an inshore species until they attain roughly 30 inches (4 years), then they migrate to join the near-shore population; spawning occurs from August to November in near-shore waters; sudden cold snaps may kill red drum in shallow, inshore waters; feeds on crustaceans, fish and mollusks; longevity to 20 years or more.

The fish gets its common name from the copper bronze large scales on their bodies, which are darker in cloudy water and lighter in clear waters, but the most distinguishing feature is a dark spot at the top of the base of the tail. For the fisherman, however, the most recognizable feature is the tail disturbing the water in the calm shallows and frequently breaking the surface. The sight of a dozen or more redfish “tailing” as this foraging behavior is called is enough to set the adrenaline coursing through the veins of the most hardened sportsman.

Catching redfish is like all fishing. You just have to be in the right place at the right time with the right bait and tackle.

A fishing rods strength or lifting power is determined by its action. A light action rod has a low strength, making it ideal for casting light lures and fighting smaller fish, whereas a heavy action rod is much stronger, and therefore suitable for fighting big brutes like Giant Mekong Catfish. Most rod manufactures offer rods varying from Light to Heavy, but the extreme classes Ultra Light and Extra Heavy do also exist. Use a light medium action rod because you could end up doing a lot of casting before you finally lure your trophy specimen onto the hook, and use the lightest line you feel comfortable with. Just remember to set the drag accurately (the pro’s will actually use a scale and set it to sixty percent of nominal breaking strain).

The right time is easy, fish the feeding grounds on the flats and oyster bars on the rising tide and till just after the tide turns and fish the hiding places in the troughs and sloughs on the ebb. The most reliable spots are on the edge of the mangroves close to deep water. This gives the combination of a great feeding spot with an easy escape route when threatened.

As far as bait is concerned, if you are fishing for the pan, use live bait. Live animals such as mealworms, red worms, night crawlers, leeches, maggots, crayfish, reptiles, amphibians and insects may be used as bait on all waters not restricted to artificial flies and lures. Toss your bait or lure as close to the mangroves as you dare, let it sink for a few seconds, then retrieve slowly. Redfish tend to wave their tails slowly when feeding. When the strike comes, you will know all about it, and the fish will do all the work of setting the hook. Your job will be to get the fish away from the mangroves and then to enjoy the fight of your life. This is when the challenge of light tackle fishing will tax your skill and fill your psyche with pride.

Happy fishing, and look out for the recipe coming soon! Just remember, if you are not going to eat the fish, release it unharmed. Always respect your local fishing regulations.


Copied with permission from: http://plrplr.com/52266/sport-fishing/

Mencari Daerah Penangkapan Ikan (Fishing Ground)

Pengertian Daerah Penangkapan Ikan
Menurut (Alam Ikan 1) Daerah Penangkapan Ikan merupakan suatu perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan diharapkan dapat tertangkapsecara maksimal, tetapi masih dalam batas kelestarian sumberdayanya.
Sedangkan daerah penangkapan ikan atau sering disebut juga dengan fishing ground adalah suatu daerah perairan yang cocok untuk penangkapan ikan dimana alat tangkap dapat kita operasikan secara maksimum, tetapi masih dalam batas kelestarian sumberdaya. 
Adapun persyaratan daerah penangkapan ikan menurut yaitu: 
  1. Terdapat ikan yang berlimpah jumlahnya;
  2. Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah yaitu Memungkinkan melakukan operasi penangkapan secara aman dari benda-benda pengganggu (tonggak bagan, bangkai kapal tenggelam) tidak terlalu jauh dari operasi penangkapan sehingga dicapai penghematan atau efisiensi dalam penggunaan bahan bakar;
  3. Secara ekonomis daerah sangat berharga atau kondisi dan posisi daerah perlu diperhitungkan yaitu daerah cukup luas memungkinkan suatu kelompok ikan tinggal (menetap) secara utuh dalam waktu cukup lama; dan
  4. Faktor lingkungan (kadar garam/salinitas, suhu perairan) sesuai dengan yang disenangi ikan yang menjadi sasaran penangkapan, cukup tersedia makanan bagi semua anggota kelompok ikan, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa.

Menurut (Alam Ikan 2), saat di lapangan untuk mendapatkan suatu daerah penangkapan dari suatu jenis ikan bukanlah hal yang mudah tanpa alat bantu, karena :
  1. Luas wilayah lautan kita cukup besar, mencakup kurang lebih ⅔ dari seluruh wilayah nusantara.
  2. Belum tebiasanya nelayan kita menggunakan data oceanografi untuk mencari daerah penangkapan ikan.
  3. Terbatasnya peraltan yang dimiliki oleh suatu unit kapal tangkap yang dipergunakan diperairan kita oleh nelayan.
Menurut (Alam Ikan 2), alat bantu yang dapat membantu nelayan kita dalam mencari daerah penangkapan ikan dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 
1. Alat bantu yang berasal dari alam
Yang dimaksud dengan alat bantu yang berasal dari alam alat bantu untuk mencari daerah penangkapan suatu jenis ikan yang berasal dari alam. Alat bantu itu sendiri terbagi menjadi empat, yaitu :
  • Adanya burung-burung laut yang menukik dan menyambar ke permukaan laut.
  • Adanya gerakan beberapa ikan lumba-lumba.
  • Adanya buih-buih atau riakkan air di permukaan perairan
  • Adanya cahaya spesifik yang dikeluarkan oleh suatu jenis ikan.
2. Alat bantu buatan
Yang dimaksud dengan alat bantu bantuan adalah alat bantu untuk mencari daerah penangkapan suatu jenis ikan yang merupakan buatan dari manusia. Alat bantu itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Rumpon
b. Lampu


Explanation :
Alam Ikan 1 : Hery Harifin, L dan Wijopriyono (1994) dalam Yusuf (2000)
Alam Ikan 2 : Yusuf, 2000

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang sekali waktu ada salahnya pula. 
Semoga Bermanfaat
 
 
Credit:Sumber

Sunday, 11 January 2015

KEDAH FISHING PACKAGES


Prices quoted are per person Adult in Ringgit Malaysia (RM)
 
 

Destination ~ Fishing 
Afternoon Fishing Trip
Ref No
A3/46
Outbound From RM 280 / USD 77
Kuala Dulang
ITINERARY
4 hour trip
Afternoon Departure - 1630 hrs
Distance:  3 hours return
Price Valid for 6 Person Group, per person.
INCLUDES
* Boat can accommodate up to 10 people.
 NOTE
* Food not included * Rental during full moon only
 * Return transfer Kuala Lumpur/ Dulang available
* Accommodation can be arranged
* Other package attachments available
* Variable number of persons per group accepted with different rates, contact us.
 

Destination ~ Fishing
Full Day Fishing Trip
Ref No
A3/47
Outbound From RM 350 / USD 95
Kuala Dulang
ITINERARY
12 hour trip
Morning Departure - 0700 hrs
Distance:  3 hours return
Price Valid for 6 Person Group, per person.
INCLUDES
* Boat can accommodate up to 10 people.
 NOTE
* Food not included * Rental during full moon only
 * Return transfer Kuala Lumpur/ Dulang available
* Accommodation can be arranged
* Other package attachments available
* Variable number of persons per group accepted with different rates,  contact us.
 

Destination ~ Speedboat - Ocean Fishing

Half Day Langkawi Fishing Charter

Ref. No
C2/03
Outbound From
Price as below per person
Langkawi
Persons 2 3-4 5-6 7-8
RM 300 250 210 195
USD 82 69 58 54
ITINERARY
- Speedboat to a great fishing spot in the Langkawi Islands
about 3 hrs fishing
- Fishing - Return to Langkawi
 INCLUDES
Includes Fishing Gears, Bait and Mineral Water
Flexible Scheduling.
NOTE
Tour lasts about 4 hours.

 

Wednesday, 3 December 2014

KOLAM DANAU PANCING DAMAI IJOK










Pertama kali saya melangkah masuk ke kolam ini saya sangkakan sedang melawat sebuah taman rekreasi dan bukan sebuah kolam pancing ikan air tawar kerana keadaan suasananya yang tenteram dan diliputi pokok-pokok taman yang menghijau.

Kolam Dalam Taman
Terletak di Ijok, Kuala Selangor. Kolam yang berbentuk ‘U’ dan berkeluasan 2.5 ekar serta keseluruhan kawasan seluas 5 ekar ini boleh menampung kira-kira 250 pemancing dengan selesa. Berkedalaman dianggarkan melebihi 3 meter dibahagian tengah kolam ini sudah cukup menguji kemahiran dan kesabaran pemancing untuk menewaskan ikan-ikan kolam seperti Rohu, Patin, Pacu dan lain-lain. Dengan perbagai kemudahan asas seperti surau, tandas, kantin dan karaoke, ia juga menyediakan tempat penginapan bertaraf chalet bagi memudahkan pemancing yang datang dari jauh atau ingin membawa keluarga menginap sambil memancing. Kolam ini boleh dikatakan antara kolam yang terbersih dan teratur dari segi infra struktur yang pernah saya lawati. Cuma kedudukannya agak jauh dari bandar tapi jika anda biasa menggunakan jalan untuk ke Kuala Selangor, tidaklah terlalu susah untuk kesana.

Dibawah pengurusan baru iaitu Kail Desa awal bulan Disember 2007. Pada awal pembukaan, sebanyak 4 tan ikan dilepaskan secara berperingkat dan setiap minggu akan ditambah pada hari Rabu atau Khamis. Premis ini dibuka 24 jam kecuali hari Khamis sehingga jam 12 malam. Bayaran masuk adalah RM 20 untuk 4 jam dan RM 58 untuk 12 jam dengan bayaran RM 2 untuk tabung wang terkumpul mingguan yang diadakan setiap dua minggu sekali. Cabutan bertuah juga diadakan setiap dua minggu sekali untuk kesemua pemancing yang datang sepanjang dua minggu itu. Bagi pemancing yang suka memancing di awal pagi, hanya dikenakan bayaran RM 25 untuk 7 jam memancing dari pukul 12 mlm sehingga 7 pagi.

Roti + Kelapa + Perisa Pandan = Patin
Memang tak dinafikan ramai kaki pancing kolam mempunyai umpan rahsia masing-masing. Ramuan roti + kelapa + perisa pandan saya temui ketika berkunjung di kolam Danau ini dikatakan berpotensi menewaskan ikan-ikan terutama patin kolam dan ia sedang hangat dipergunakan berbanding penggunaan dedak mahu pun umpan lain.

Kali ini saya ingin berkongsi sedikit pengalaman menggunakan umpan ini. Roti dipotong dadu kecil-kecil, kemudian digaulkan dengan kelapa parut dan campurkan sedikit perisa pandan yang juga boleh didapati disini atau dikedai-kedai pancing, biarkan seketika bagi ramuan-ramuan tersebut menyerap didalam roti dan boleh terus digunakan.

Untuk menggunakannya, mata kail bersaiz besar adalah disyorkan seperti mata kail udang bersaiz no 14 ke 15 kerana batang terasnya yang kecil dan tajam memudahkan melekat kukuh dimulut ikan. Tidak perlu menggunakan mata rambai atau cakar ayam, penggunaan perambut dua mata sudah memadai. Digalak menggunakan tali perambut jenis sulam(braided line) kerana dikatakan ia lebih sensitif, mudah melekat dan tahan putus jika mendapat ragutan dari sang Pacu. Cangkuk roti tadi hingga menutupi mata kail, kemudian kepal-kepalkan roti menjadi gumpalan besar atau ‘bomm’. Cara ini dapat membantu umpan dari terlerai sepenuhnya jika terlalu lama didalam air kerana roti mudah kembang. Jangan terlalu memaksa ketika membuat balingan kerana ia mudah terlucut dari mata kail. Tidak perlu membuat sembatan yang terlalu kuat, biarkan radar naik dan pantas membuat sembatan biasa, ia sudah memadai. Saya pasti anda tidak akan kecewa.

Disini anda juga berpeluang membeli minyak bancuhan dedak yang dikatakan ‘killer’ bagi ikan-ikan kolam termasuklah cara-cara bancuhan dan jenama dedak yang selalu digunakan oleh pemancing-pemancing yang lebih senang digelar ‘geng cari makan’’.

Sistem SMS
Apa yang menarik perhatian saya ialah kolam ini menggunakan sistem pesanan ringkas(SMS) jika terdapat sebarang berita terbaru berkenaan kolam seperti pertandingan atau pun perubahan dari segi yuran. Dengan pendedahan baru ini pemancing tidak risau jika terlepas sebarang perkembangan tentang kolam. Cuma anda perlu meninggalkan nombor talipon bimbit di kaunter.

Bagaimana untuk kesana!
Cara mudah dengan menggunakan laluan MRR2 terus menghala Kuala Selangor. Lebih kurang 15 km dari penjara Sg.Buluh. Sampai di pekan Ijok dan Masjid Ijok, anda akan jumpa papan tanda Kolam Danau Pancing Damai bertentangan dengan masjid, belok kiri. Selamat Memancing!
Untuk keterangan lanjut atau tempahan chalet boleh berhubung :-
ADI – 017 886 0973


Sumber

Redang Bay Fishing & Family Special

 2 to 3 Days Redang Bay Fishing & Family Special
Ref. No
R4/03
Outbound From
Price as below
per adult
K. Terengganu / Merang
FULL BOARD
TWIN
2 share
QUAD
3-4 share
FAMILY
6 - 7 share
RM USD RM USD RM USD
2 Days 1 Night
660 176 650 173 610 163
3 Days 2 Night
760 203 750 200 710 189
SURCHARGE > Weekends & Holidays - Add RM100 Per Adult
Child rate (4 -11 Yrs) - 50% Adult Rate
 INCLUDES
*Accommodation at Redang Bay Resort
(air-con/ attached bathroom) 
*B/fast/ Lunch/ Dinner/Coffee & Tea 
*2 Fishing boat trips
*Return boat Transfer
*Return land transfers to jetty 

ITINERARY
DAY 1
Pick up and transfer to jetty
Depart to Redang Island by boat
Check-in / lunch /
Fishing boat trip / tea time / leisure / dinner / leisure
DAY 2
Breakfast / Fishing boat trip
lunch / Fishing boat trip
Tea time / leisure / dinner
DAY 3
Breakfast
9:30am - Transfer back to K. Terengganu

NOTE
*For 2D1N - itinerary is as Day 1 & Day 3.
*For single occupancy add RM50 per night.
 * Children aged between 1-3 years old are charged RM 40.00 for return boat fare.
Boat Transfer
Merang - Resort : 09:30am , 12:30pm & 4:30pm
Resort - Merang :  8:00am , 10:30am  & 2:00pm
 
 
 
 
 

Cara Memancing Ikan Baung

 
Ikan Baung, merupakan ikan yang beraktivitas di malam hari, di siang hari ikan ini lebih banyak menghabiskan waktunya di lubang-lubang, di sela-sela bebatuan ataupun di bawah tumpukan kayu yang ada di sungai. Bentuk fisik ikan baung menyerupai ikan lele, perbedaan yang mencolok ada di sirip punggung, ikan baung memiliki sirip punggung yang keras dan runcing, serta warna kulit yang abu-abu kekuning-kuningan.
Sirip di kiri dan kanan ikan ini memiliki racun yang dapat menyebabkan demam bagi orang yang terkena sengatan patilnya.
Di Palembang pindang ikan baung termasuk makanan yang mahal dapat mencapai Rp 25 ribu per porsinya dan bagian kepalanya dapat mencapai Rp 50 ribu per porsinya, (potongan kecil) tapi mengingat rasa yang sedap dan ikan ini termasuk ikan yang langka harga segitu termasuk sesuai.

Untuk memancing ikan ini tentunya lebih tepat di malam hari, walaupun sesekali pernah ada ikan baung yang mau memakan umpan di siang hari.

Umpan (kocor/ kucur):
  1. Adonan/campuran air, usus ayam, telur, lemak (ayam, atau lemak daging sapi, kambing), 
  2. Masukkan campuran tadi ke dalam wadah yang bertutup, lalu pendam wadah tersebut di dalam tanah selama kurang lebih 3 hari
  3. Setelah 3 hari masukkan kapas ke dalam campuran yang telah membusuk tersebut.
  4. Saat memacing yang kita pasang di mata kail adalah kapas yang telah di rendam campuran yang membusut tersebut. 
Cara memancingnya,
  1. Cari lokasi ikan berada, seperti Lubuk (bagian sungai yang dalam dan airnya tenang)
  2. Lilitkan kapas ke mata kail seperti kita memasang lumut sebagai umpan
  3. Kita harus tahan terhadap bau umpan yang menyengat. 
  4. Lemparkan mata kail sedikit ke tepi sungai, atau di tempat yang kita perkirakan ikan berada.
Salam Strike.........

sumber 

More Fishing Stories:  http://Gofishtalk.com

Monday, 13 October 2014

Tips Lokasi Memancing

Keberadaan ikan di laut selalu ditandai dengan gejala-gejala alam yang ada. Bagi mania laut membaca tanda-tanda keadaan alam paling tidak menjadi pengetahuan dasar untuk keberhasilan memancing. Nah, sebenarnya tanda alam apa saja yang perlu diketahui oleh mania mancing?
Para kapten laut ataupun mania mincing selalu menjadikan tanda-tanda alam sebagai panduan untuk mengetahui keberdaan ikan-ikan. Kelihaian membaca alam inilah yang membuat kesuksesan dalam memancing.
Banyaknya Burung
Banyaknya burung merupakan tanda-tanda alam pertama. Salah satu panduan bahwa di lokasi ada banyak ikan adalah dengan hadirnya banyak burung. Burung-burung tersebut sedang mencari makanan yang secara kebetulan di permukaan air terdapat banyak ikan-ikan kecil. Yang ikut menikmati ‘hidangan’ ikan-ikan kecil bukan hanya burung-burung yang terbang di udara saja, namun ikan-ikan ukuran sedang dan besarpun ikut berpesta.
Sudah menjadi hukum alam atau hukum rantai makanan bahwa ikan-ikan besar selalu memakan ikan kecil. Jadi bila banyak ikan kecil di lokasi tersebut pasti di sekitarnya terdapat ikan-ikan besar.
Nah, memancing trolling di sekitar kumpulan ikan lebih menjanjikan dibanding memancing di lokasi yang tidak jelas ada tanda-tanda keberadaan ikan.
Sampah Kayu
Ciri kedua sebagai lokasi ikan adalah adanya sampah kayu di tengah laut. Batang pohon yang terhanyut arus ditengah laut membawa plankton-plankton kecil. Kumpulnya plankton- plankton ini membuat ikan kecil pun beramai-ramai makan plankton. Karena banyak ikan kecil di sekitar sampah kayu ternyata mengundang perhatian ikan-ikan yang lebih besar seperti ikan lemadang misalnya.
Karang
Ciri ketiga sebagai lokasi ikan adalah keberadaan karang di tengah laut. Karang merupakan struktur yang keras yang berupa bebatuan. Di dalam karang ternyata banyak tumbuh biota-biota dan rumput- rumput karang yang menjadi rumah ikan. Ikan-ikan kecil biasanya banyak mencari makan dan berlindung di lokasi yang berkarang.
Sebagai lokasi persembunyian ikan-ikan kecil maka di sekitar karang menjadi gudang makanan bagi ikan-ikan besar maupun ikan predator.
Mancing di karang memang menjanjikan. Pertanyaannya bagaimana kita bisa mengetahui bahwa di dalam laut terdapat karang cetek (dangkal) maupun karang dalam? Dahulu sebelum ada alat elektronik semacam depth sounder maupun Global Position System (GPS) para nelayan hanya melihat ombak di permukaan air. Setelah mereka menduga ada karang di bawah dengan panduan ombak, merekapun lantas menurunkan timah pemberat dan menganalisa struktur di dasar. Cara ini oleh nelayan disebut dengan nama ngelot.
Tubiran laut
Tanda alam yang menjadi lokasi ikan yang keempat adalah tubiran laut (drop off), dasar laut dari yang plat tiba-tiba mendadak ke dalam atau seperti jurang, di sinilah merupakan lokasi strategis penangkapan ikan. Banyaknya ikan di lokasi ini diakibatkan oleh arus laut yang membawa plankton naik ke atas sehingga mengundang banyak ikan kecil di lokasi tersebut. Ikan-ikan kecil inilah yang menjadi perhatian ikan besar.
Gunung di Laut
Layaknya sebuah di daratan, struktur dasar lautan ada yang menyerupai gunung, yang oleh para mania mancing disebut dengan sea mount reef. Lantaran arus laut tertahan oleh gunung sehingga arus tersbut naik dan membawa plankton, sehingga ikan di sana banyak. Selain tertahannya arus, gunung di tenah laut juga menyuburkan karang-karang yang menjadi rumah ikan. Jadi mancing di seamount reef tentu saja lebih menjanjikan dibanding lokasi lain. Bahkan ikan yang di dapatpun lebih variatif seperti ikan dasar dan ikan pelagis. Cara melihat seamount reef dapat dilakukan dengan menggunakan depth sounder dan GPS.
Sumber: makassarterkini.com 


More Fishing Stories:  http://Gofishtalk.com

Monday, 15 September 2014

Fly-Fishing in Russia



The icy waters of a remote arctic river have become a Shangri-la for anglers in pursuit of Atlantic salmon—hard (and expensive) to get to but, oh, the fish!

Russia's Ponoi River is not what most people would consider a typical fly-fishing destination. For starters, there are no long-established, luxurious lodges lining its bank like those found on other famous salmon rivers. It's located on the eastern edge of the Kola Peninsula—a 40,000-square-mile wilderness of tundra and low forest. The capital city of the province, Murmansk, is home to Russia's Atlantic nuclear submarine operations. In fact, until the early 1990s, it was virtually impossible to travel to this remote, lonely part of the world. Security was tight along the Finnish border where locals were required to report sightings of strangers to the authorities. In those days, the Kola was considered so strategically important that Russians living under the former Soviet regime were forbidden to travel to the interior without special permits. The guard towers and the patrols are gone now, but the wilderness of the Kola, particularly in the eastern sections, remains untouched. That has been a boon for the region's Atlantic salmon. While many Canadian and United States rivers have seen extensive development over the past century, Kola waterways are comparatively wild. Because of the lack of dams and pollution, these rivers have some of the largest runs of Atlantic salmon in the world. In just over a decade, the peninsula's Rynda, Kharlovka, and Yokanga rivers have become common names in fly-fishing circles. But it is the Ponoi that is considered the crown jewel—the river where you can catch more salmon in one day than during an entire week in eastern Canada, Norway, or Iceland.
If you're not a fan of helicopters, however, you'll never make it to the fishing grounds on the Ponoi. Located 130 miles southeast of Murmansk, the river is accessed almost exclusively by air—which means a somewhat grueling ride in a Russian MI-8 (pronounced "me eight") helicopter. These military workhorses (they were used in Afghanistan and more recently in Chechnya) have two massive engines and can carry 24 soldiers in full military gear or—in my experience—18 anglers and their many bags crammed with fleece-lined jackets, dozens of rods, and boxes of brightly colored flies.
The two-hour ride is cramped and loud (you are given earplugs before boarding), but as the MI-8 thunders over the tundra, passengers are treated to a stunning view of arctic wilderness. The Kola's windswept landscape is dotted with birch trees, clumps of stubby pine, and endless bogs. It is easy to understand why, during Soviet times, escaped prisoners (criminal and political) picked this area to hide out in. During the flight, there was not a single hint of mankind—no roads, no towns, not even a shack.
Ryabaga camp is operated by the Ponoi River Company, which is owned by Shackleton International, a company that specializes in unique fishing expeditions. Their base on the Kola is a tidy village of white canvas tents on platforms, located 30 miles up the Ponoi river from where the Barents Sea meets the White Sea on the eastern tip of the peninsula. It accommodates up to 20 and from late May to the end of September the outpost is filled to capacity with ecstatic anglers.
After spending days getting to the Ponoi (most people fly to Helsinki, lay over for a night, and then take a connecting flight to Murmansk), I was desperate to get on the river, and the Ryabaga guides—a multinational mix of seasoned pros—were quick to accommodate. Immediately after breakfast on my first morning, John Gendall, a 31-year old New Zealander, ushered another guest and me into a 17-foot boat and headed up the wide, slow-moving river.
Russians and Scandinavians have been fishing these waters since the 16th century, but the area has not seen the same decline in stock as Canadian and U.S. breeding grounds. The annual run on the Ponoi is estimated to be between 30,000 and 60,000 fish. In comparison, Maine's Penobscot River, which has the largest population of Atlantic salmon in the United States, sees an average of only 1,000 adult fish each year.
At the head of a large pool, Gendall cut the outboard and released an anchor. My fishing partner, Tom Watson III, a retired lawyer from Connecticut, started casting from the stern while I worked my ten-weight rod from the bow. On only my second cast I got a solid hookup. I was so surprised that I played the fish badly and lost it. It turned out to not be a problem. In the next six hours, I went on to catch and release five very respectable Atlantics averaging about 14 pounds each. Watson managed to land five as well.
A typical day on the Ponoi starts around 6:30 a.m., when a camp manager appears in the tents and lights the stoves. As guests rise to a crackling fire, a hot breakfast (including delicious scrambled eggs with smoked salmon and freshly made pain au chocolat) is prepared in the dining tent. If anyone has been lucky enough to catch a sea trout the day before—most everyone does—the chef adds it to the morning menu. Around 9 a.m., groups of two set out to fish different sections (called beats) of the Ponoi—some in boats and others in helicopters to more far-flung locations.
Even though the camp is located 35 miles above the Arctic Circle, the weather during summer months is surprisingly mild, with temperatures typically in the 70s or 80s. But visit as I did in late September and it's a bit more like November in New England. Some days the mercury stayed in the 50s, while on others it dropped to the low 40s. All guests came equipped with high-tech waders and Gore-Tex fishing jackets as well as many layers of fleece, hats, and gloves that convert to fingerless models instantly in order to feel the fly line. If the weather turns ugly, each beat has a small tent with a wood-burning stove where anglers warm up and have a hot lunch. One Ponoi veteran, 65-year-old Page Chapman, told me that he preferred the colder trips. "In the summer, I had to wear mosquito netting all day because of black flies," he said. "And my tent was a furnace at night because we kept it sealed up tight to keep out the insects."
Maintaining an outpost in the arctic, particularly the Russian arctic, is a logistical challenge of epic proportions. Camp manager Roderic Hall described to me a few of the expenses: The camp consumes 19 tons of fuel totaling $60,000 annually. It costs another $40,000 just to have it flown in by helicopter. All food—fresh vegetables, eggs, meat, and numerous cases of Spanish wine—is flown from Finland and Murmansk. Even obtaining firewood is an ordeal. The trees in this part of the Kola are stunted so the camp must have pine timbers floated down from a forest 100 miles upstream every spring. There are 32 staff members to pay, including guides, chefs, maids, mechanics, and a camp doctor. Shackleton also makes annual lease payments to the Russian government so the camp can enjoy private fishing for 50 miles of the Ponoi. Running the camp is a labor of love, says Thorpe McKenzie, a private investor from Tennessee who was a co-owner of the operation for ten years before Shackleton bought the camp. "There was never a year where we made more than $500 pre-tax per angler."
What all this means, of course, is fishing here is significantly more expensive than, say, casting for trout in Montana. Six days and seven nights during prime running weeks in June and September costs just under $10,000 per person, and that's not including airfare to Murmansk.
Salmon enthusiasts take consolation in the fact that any difficulty they experience getting to the Kola pales in comparison to what the fish go through. After hatching, young salmon typically spend two to three years in the river before they begin their migratory gauntlet. First they must make it downriver, dodging kingfishers and mergansers, and then out to sea where they race past schools of hungry cod and seals to the waters off the Faroe Islands, a collection of 18 windswept, treeless land masses around 200 miles north of Scotland. There they spend one or two years fattening up before making the long journey back to the exact river, tributary, and often same pool in which they were born.
What happens next is what drives otherwise prudent individuals to spend outlandish amounts of money and time just for an opportunity to be in the same water as these fish. When an Atlantic salmon returns to its native river, its sole purpose is to lay eggs. Salmon do not linger in one place for very long and, more importantly, they do not feed. But, for reasons that remain a mystery to marine biologists, if you place a brightly colored Mickey Finn, Hairy Mary, or any number of other flies exactly in the right place at precisely the right moment, they chase and strike. The sound of a screaming fly reel as a salmon performs great leaps out of the water is one of angling's greatest thrills.
"I'm always amazed to look at the vast size of the water I am covering and the small size of the fly that I am using, and that any fish is prepared to take it," says Jane Stewart, who has traveled to the Kola over ten times from Somerset, England. "It's a great privilege to get one on the end of the line."
Another inspiring factor is that there are simply not that many Atlantic salmon in the world to catch. All five species of Pacific salmon—which differ greatly from Atlantics in that they die once they spawn—are much more plentiful. For example, British Columbia's Fraser River alone gets an annual run of between ten and 20 million Pacific salmon each year. The total world population of Atlantic salmon, in comparison, is estimated to be around 4 million fish, according to the International Council for the Exploration of the Sea, an organization that studies marine life in the North Atlantic. That's about half of what it was in the mid 1970s. Most marine biologists believe that overfishing and deterioration of freshwater habitats have been contributors to the decline in stocks. The good news is that many countries, including Greenland and Norway, have either put a halt to, or reduced the harvesting of Atlantic salmon. The United States and Canada have eliminated commercial fishing for Atlantics altogether. (Fly-fishing on the Ponoi River Company trip is catch and release with barbless hooks.)
There comes a point in every fishing trip when you want to see if you can outwit your prey without the help of a guide. On an overcast, windless afternoon, I made my way along the rocky shoreline downriver to a slow-moving pool. I have been fly-fishing for most of my life and understand trout streams and bonefish flats, but I found it difficult to know where to start on such a wide stretch of river. Typically I use a nine-foot-long single-handed rod, but on that day I was armed with a 14-foot Spey rod, which is the preferred weapon on the Ponoi. The additional length allows you to cast the line farther, up to 120 feet, and cover more water. This is key, because unlike sight fishing for trout where you see them rise, it's not always easy to tell where an Atlantic is hiding out. As with many river fish, in front and behind large boulders is always a good bet, but salmon are also happy to linger in the middle of a moderately swift current. The idea is to cast your fly directly across the current, let it swing through the pool, and hope it catches the attention of a fish.
After an hour, I decided that this section of river was a lost cause. But as I was about to pack it in, something big hit my Mickey Finn. As the water boiled, I could see the silver flicker of the fish just under the surface and knew it was a salmon. I waited a moment before raising the rod to ensure a good set. The salmon began a series of long runs. After a ten-minute fight, I pulled it up beside me and removed the hook from its mouth. It was a powerful fish that weighed around ten pounds—not a monster, but still a marvelous specimen. I held it gently, nose into the current letting it recover while the water rushed through its gills. A few moments passed, and then it snapped its tail and was gone.
I had to take three planes and a helicopter to reach this river. It was, as I learned that week, a privilege to be able to cast to these tough, determined creatures. Few game fish need the pristine, pollution-free environment Atlantic salmon must have to survive. The Ponoi River is such an environment, and it's still as it always was—wild and difficult to get to. It's the end of the line, and the Atlantic salmon like it that way.


Rigging Up for Russia

THE SEASON AND COST The 2004 season on the Ponoi begins May 29 with the last week starting on September 25. Cost: from $4,690 to $9,990, depending on the week. Early and late weeks are the most expensive because they have the largest runs of salmon.
EQUIPMENT The rod of choice on the Ponoi is a 14- to 16-foot Spey rod with a nine- or ten-weight line. Rio Windcutters with interchangeable sink-tips are the preferred fly lines. Floating lines come in handy during the middle of the summer when water levels are low. Single-handed rods can also be used very effectively because most of the fishing can be done from a boat. However, when wading, you'll be able to cast farther and more comfortably with a Spey rod. The camp's fly shop has an excellent selection of appropriate flies as well as plenty of topnotch equipment, including fishing gear by Sage, Tibor, Thomas & Thomas, and Rio.
CLIMATE The Ryabaga camp is located 35 miles above the Arctic Circle, and that means the weather can change in an instant. Early in the season the temperature is typically in the 40s during the day and drops into the 30s at night. Midsummer is warm, with temperatures around the 70s and 80s. During the fall, expect anything from the 40s to the 70s during the day and below freezing at night.
HOW TO GET THERE Travelers from both Europe and the U.S. fly to Helsinki via Finnair, spend the night, and connect to a Murmansk flight the next morning. From there it's a two-hour helicopter ride to the Ponoi.
RESERVATIONS Frontiers International Travel has been the exclusive agent for the Ryabaga Camp since its inception in 1991. Contact Frontiers at Box 959, Wexford, PA, 15090; 800-245-1950, 724-935-1577; www.frontierstrvl.com.


Source 

More Fishing Stories:  http://Gofishtalk.com